Etika Mengintip Penyu Bertelur

Jakarta – 

Yayasan Penyu Indonesia (YPI) berbagi tips kepada traveling yang ingin menyaksikan aktivitas penyu dan tukik di tepi pantai. Apa saja?

Indonesia memiliki enam dari tujuh jenis penyu di dunia, yakni penyu hijau (Chelonia mydas), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus) dan penyu tempayan (Caretta caretta).

Keenam penyu di Indonesia itu dilindungi oleh Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. So, segala bentuk perdagangan penyu baik dalam keadaan hidup, mati, maupun bagian tubuhnya dilarang. Undang-Undang konservasi juga memberikan ancaman berupa sanksi kepada pelanggarnya.

Jumlahnya yang minim harus berbenturan dengan predator, termasuk manusia. Bahkan, operator wisata yang tak peduli dengan konservasi dan turis bandel pun termasuk daftar ancaman bagi penyu.

Makanya, wisata penyu terus menjadi pro dan kontra hingga saat ini. Komersialisasi hingga mengganggu aktivitas alami penyu dinilai tak seiring dengan langkah konservasi.

Ketua Yayasan Penyu Indonesia, Bayu Sandi, dalam IG Live bersama Profauna awal pekan ini, bilang wisata penyu bisa tetap dilakukan, namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Dalam situs resmi YSI menyebut YPI bekerja sama dengan masyarakat lokal, yakni membatasi traveler untuk mengamati penyu bertelur, mulai dari rescue tukik, rescue penyu, pendataan jumlah telur, dan rilis (pelepasan) tukik.

Untuk bisa melakukannya, traveler harus didampingi ranger terlatih. Selain itu, sejumlah syarat diberikan YSI kepada traveler yang berniat untuk mengamati penyu bertelur.

Berikut tips dari Yayasan Penyu Indonesia saat traveler mengamati penyu bertelur:

1. Jangan menggunakan flash untuk memotret, namun gunakan lampu merah
2. Jaga jarak minimal dengan penyu sejauh 10 meter
3. Jangan berada di depan penyu, tonton penyu dari belakang
4. Dilarang memegang penyu atau tukik, termasuk dalam upaya menolong dikhawatirkan mencederai penyu atau tukik
5. Tidak berpesta dan membuat keributan di pulau tempat konservasi penyu

(fem/ddn)

Sumber:
https://travel.detik.com/travel-tips/d-5020952/etika-mengintip-penyu-bertelur

BKSDA Bali, BPSPL Denpasar dan Koalisi Organisasi Lingkungan Pasang Papan Informasi Pelarangan Perdagangan Produk Mengandung Penyu

Tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Balai Pengelola Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar dan koalisi organisasi lingkungan termasuk PROFAUNA memasang papan informasi terkait pelarangan perdagangan produk yang mengandung penyu sisik di Bali (14/4/2020). Papan informasi tersebut dipasang di area Pasar Seni Kumbasari dan Pasar Badung.

Pemasangan ini merupakan kerjasama antara BKSDA, BPSPL, Polairud Bali dan organisasi lingkungan yang bergerak dalam perlindungan penyu, diantaranya yaitu Yayasan Penyu Indonesia (YPI), PROFAUNA Indonesia, Turtle Foundation, dan Too RareToWear.

“Pemasangan papan informasi tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar tidak membeli ataupun memakai produk mengandung penyu, khususnya penyu sisik yang biasanya diambil karapasnya untuk dijadikan souvenir ataupun perhiasan,” kata Muhhamad Jayuli, juru bicara koalisi perlindungan penyu.

Dipasangnya papan infomasi tersebut di Bali bukannya tanpa alasan, karena investigasi PROFAUNA sebelumnya menunjukan salah satu pusat perdagangan produk mengandung penyu sisik adalah di Bali. Survey tim pada bulan Juni-September 2019 di Bali, dari 353 toko yang dikunjungi itu ada 25 toko yang menjual produk mengandung penyu sisik.

Lokasi utama di Bali yang banyak menjual produk mengandung penyu sisik berada di Sukawati. Dari 22 toko yang dikunjungi, tercatat ada 13 toko yang menjual produk penyu sisik. Selain Sukawati, produk mengandung karapas penyu sisik juga dijual di Denpasar, Dalung dan Ubud.

Harga produk mengandung penyu sisik itu ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 15.000 untuk cincin yang sederhana, hingga jutaan rupiah untuk kipas tangan.

“Kami menyambut baik kolaborasi yang positif antara pemerintah dan organisasi lingkungan untuk bersama-sama memerangi perdagangan penyu di Bali ini. Saya berharap kedepannya juga ada upaya penegakan hukum,” kata Rosek Nursahid, Ketua PROFAUNA Indonesia.

Sumber :

http://www.profauna.net/id/content/bksda-bali-bpspl-denpasar-dan-koalisi-organisasi-lingkungan-pasang-papan-informasi

Kampanye Mengajak Wisatawan di Bali untuk Tidak Lagi Membeli Produk Berbahan Sisik Penyu

Yayasan Penyu Indonesia (YPI) dan PROFAUNA Indonesia lagi gencar melakukan kampanye mengajak wisatawan di Bali untuk tidak lagi memakai atau membeli suvenir yang terbuat dari sisik penyu. Ajakan itu dilakukan hari ini (18/11) dengan cara membagikan selebaran di tempat-tempat yang menjadi pusat informasi bagi turis, seperti Indonesian Tourist Information Center (ITIC), dan juga hotel-hotel di sekitar lokasi pariwisata Kuta, Bali.

Selebaran informasi itu berisi cerita menarik tentang proses bagaimana sisik diambil dari tubuh penyu yang dilakukan secara kejam. Kemudian penyu itu akan mati secara perlahan dengan kesakitan.

Muhamad Jayuli, Campaign Officer YPI mengatakan bahwa memberikan informasi wisatawan dan masyarakat sangat penting, karena masih banyak yang belum mengetahui proses yang kejam dibalik pembuatan produk itu.

“Kami berharap setelah membaca isi dari selebaran itu wisatawan lebih mengerti dan mengurungkan niatnya untuk membeli produk berbahan penyu sisik,” kata Jayuli.

Semua jenis penyu telah dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor P.106 tahun 2018. Menurut UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, bahwasannya setiap orang dilarang keras menangkap, memperdagangkan, atau menyimpan penyu dan bagian tubuhnya. Hukuman bagi yang melanggar ketentuan tersebut adalah 5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta.

“Selain memberikan informasi, kami juga mengajak wisatawan ataupun masyarakat untuk berpartisipasi menekan rantai perdagangan penyu dengan cara menginformasikan kepada kita atau pihak berwenang jika melihat produk-produk yang mengandung sisik penyu diperdagangakan di pasaran,” tambah Jayuli.

YPI, Turtle Foundation bersama PROFAUNA akan menggalakkan kampanye nasional mengajak masyarakat untuk tidak lagi membeli atau memakai produk yang terbuat dari sisik penyu. Kampanye yang bertajuk “Keren Tanpa Memakai Sisikku” itu bertujuan untuk mengurangi atau menekan perdagangan produk yang terbuat dari sisik penyu.

Sumber:

https://www.profauna.net/id/content/kampanye-mengajak-wisatawan-di-bali-untuk-tidak-lagi-membeli-produk-berbahan-sisik-penyu

Efek Negatif Peternakan Penyu dan Pembesaran Tukik

Penyu adalah satwa yang terancam punah yang sudah dilindungi oleh hukum Indonesia dan internasional yang seharusnya mendapatkan perlakuan khusus untuk membuatnya lestari. Namun ironisnya manusia seakan kecanduan untuk mengeksploitasi penyu dan berusaha mencari celah hukum untuk bisa terus memanfaatkan penyu demi kepentingan pribadi. Di berbagai tempat jumlah penyu terus menerus berkurang seiring dengan maraknya eksploitasi penyu berkedok “konservasi” yang tidak ramah penyu.

Pada sebelum era 2000-an penyu dengan terang-terangan dieksploitasi dengan cara ditangkap dengan tangan, ditombak, dijaring untuk diambil dagingnya, dijadikan aksesoris kecantikan dan dijadikan opsetan (awetan) untuk penghias ruangan, sementara bentuk eksploitasi pada tahun 2000-an telah dikemas dengan lebih menarik. Karena saking menariknya kemasan eksploitasi penyu tersebut, maka pemerintah, masyarakat awam, dan turis selalu terkecoh mengira bahwa eksploitasi tersebut adalah upaya pelestarian penyu.

Kedok konservasi tidak ramah penyu gaya baru ini berupa “Peternakan Penyu” (sea turtle farming) dan “Pembesaran Tukik” (sea turtle head-starting) yang seringkali disalahpahami sebagai kegiatan “Penangkaran Penyu” oleh masyarakat Indonesia.

Peternakan Penyu

Peternakan penyu atau sea turtle farm sebenarnya adalah sebuah usaha membesarkan tukik untuk tujuan komersial yaitu untuk dipertontonkan, diambil dagingnya, atau dijual sebagai binatang peliaharaan. Kegiatan peternakan penyu jauh lebih jahat daripada usaha pembesaran tukik (head start) karena kegiatan peternakan penyu hanya melulu mengeksploitasi penyu tanpa memperhatikan kelestarian penyu di Alam.

Dalam sebuah kegiatan peternakan penyu di salah satu tempat wisata, mereka melakukan “pencucian” penyu dengan cara mendatangkan penyu dewasa hasil tangkapan di alam untuk dijadikan atraksi bagi turis. Para pengunjung diperbolehkan menyentuh penyu dewasa tersebut, bahkan diperbolehkan duduk diatas penyu tersebut untuk diambil foto. Dalam keadaan stres penyu cenderung tidak akan memberontak dan diam saja ketika diganggu oleh para pengunjung. Apabila telah dirasa cukup lama seekor penyu dipertontonkan, maka penyu akan diafkir secara diam-diam, dipotong untuk diambil dagingnya. Penyu-penyu dewasa hasil tangkapan yang lain didatangkan untuk menggantikan penyu yang dipotong. Dengan kurangnya pengawasan dari pemerintah, maka pemerintah tidak tahu bahwa tempat wisata ini telah “mencuci” kegiatan pembunuhan penyu.

Pembesaran Tukik

Pembesaran Tukik (seaturtle headstart) adalah usaha untuk membesarkan tukik (bayi penyu) hingga usia dan ukuran tertentu sebelum di lepas ke alam, dengan harapan agar tingkat keselamatan/ survival tukik di alam menjadi lebih tinggi. Kegiatan ini sepintas terdengar baik dan mulia, namun kurang memperhatikan siklus kehidupan penyu secara menyeluruh. Meskipun tidak seburuk kegiatan peternakan penyu, pembesaran tukik tidak dapat diterima dalam sebuah usaha konservasi penyu karena tidak ada percobaan pembesaran tukik yang berhasil. Kegiatan ini dinilai terlalu sembrono dan ceroboh dengan penjelasan sebagai berikut:

Penyu adalah satwa unik yang memiliki siklus kehidupan yang jauh lebih rumit daripada yang diketahui kebanyakan orang. Semenjak pertama kali mereka ditetaskan, tukik sudah harus mengalami serangkaian proses yang harus mereka alami sendiri untuk melatih insting mereka agar mereka dapat menjalani proses kehidupan secara utuh dan menghasilkan keturunan.

Tukik yang menetas harus segera secepatnya merangkak dan berenang ke laut dalam untuk menghindari predator yang berupa anjing, kucing, biawak, elang, kepiting, anak hiu, gurita dll. Para ahli mengatakan dari 1000 tukik yang menetas hanya ada satu yang mampu bertahan menjadi penyu dewasa. Dalam proses menuju laut tukik mengerahkan semua inderanya untuk merekam perjalanan sehingga ketika tiba saatnya bagi tukik yang telah dewasa untuk kembali pantai dimana dia menetas, maka dia mampu menemukan jalan pulang.

Tukik harus menjauhi pantai secepatnya untuk menghindari predator, terlambat sedikit saja maka peluang tukik untuk bertahan hidup akan semakin mengecil. Setelah tukik berhasil selamat dari ancaman para predator, maka tukik akan datang di perairan dalam dimana dia akan sampai di arus yang lebih kuat yang tidak dapat dilawan oleh tukik. Tukik akan menghanyutkan diri ke dalam arus itu dan akan beristirahat selama beberapa hari di dalam arus itu. Setiap tukik telah dibekali zat kuning telur (yolk) sebagai bekal perjalanan dia yang menurut ahli kuning telur itu akan bertahan selama tiga hari hanyut di arus. Ketika zat kuning telur mulai habis, tukik akan mulai belajar memakan makanan alami yang mereka temukan di samudra.

Periode dimana tukik menghanyutkan diri ini disebut dengan masa-masa yang hilang (the lost years). Tukik akan tetap hanyut dan bertumbuh hingga sampai tiba waktunya dia akan kembali ke perairan di dekat pantai dimana dia dulu menetas. Tukik yang telah bertumbuh menjadi penyu dewasa (usia 35-40 tahun) akan kawin kemudian bertelur di pantai yang sama sebanyak 3 hingga 7 kali dalam satu periode peneluran. Tukik-tukik kecil yang baru akan menetas dua bulan setelahnya dan harus melalui pengalaman yang sama seperti yang seperti dialami oleh induknya terdahulu. Dengan demikian siklus kehidupan berulang kembali, demikian seterusnya.

Praktek pembesaran tukik atau dalam bahasa Inggris disebut dengan “sea turtle headstart” dilakukan dengan prasangka bahwa usaha manusia untuk membesarkan tukik hingga ukuran tertentu dapat sukses mengurangi tingkat kematian tukik akibat dimangsa predator. Tetapi upaya ini hanya murni didasari prasangka tanpa adanya dasar penelitian secara ilmiah manapun. Penelitian tentang pembesaran tukik terbesar dan terlama di dunia pernah sekali dilakukan di Florida-Amerika Serikat oleh DNR (Department of Nature Recourse). Penelitian ini dianggap sebagai terlama dan terbesar karena memakan waktu penelitian selama 30 tahun dengan melibatkan 18.000 ekor tukik. Program ini dimulai pada tahun 1958 dan dihentikan pada tahun 1988 karena tidak memperoleh hasil apapun dan tidak dapat memberikan bukti nyata bahwa tukik yang dibesarkan dapat menjadi penyu dewasa yang menghasilkan keturunan.

Selain dianggap gagal, program ini juga telah memakan biaya yang luar biasa besar. Karena untuk membesarkan penyu dengan baik, seseorang harus secara serius menyediakan fasilitas, akomodasi dan makanan yang harus menyerupai di habitat alami penyu alami. Artinya diperlukan kolam yang luas atau bahkan teluk yang dimodifikasi, dan diperlukan pakan penyu hidup dalam jumlah besar dan berkesinambungan. Ini membutuhkan energi dan uang dalam jumlah yang besar.

Sementara praktik pembesaran penyu di Indonesia sama sekali tidak bisa dianggap sebagai program “head-start” karena prosesnya dilakukan tidak berdasarkan kepada penelitian ilmiah manapun dan berpihak secara melulu pada kepentingan menarik uang sebanyak-banyaknya melalui kegiatan turisme. Tukik-tukik yang menetas ditaruh pada “penangkaran” dengan metoda yang serampangan selama diperlukan dengan biaya yang sangat minim hingga turis datang untuk “membeli” mereka guna dilepaskan kembali.

Praktik pembesaran tukik di Indonesia hanya mendatangkan masalah karena dilakukan dengan biaya minimal untuk mendatangkan keuntungan yang besar, yaitu:

  1. Penangkaran menyediakan kolam yang dangkal, padahal tukik membutuhkan latihan menyelam agar paru-paru mereka dapat berkembang.
  2. Di beberapa tempat donatur membantu penangkar dengan menyediakan kolam yang dalam, tetapi dengan alasan untuk mengirit biaya listrik dari pompa air, penangkar hanya mengisi seperempat atau bahkan sepersepuluh dari ketinggian kolam.
  3. Penangkar tidak memberikan pengobatan sehingga tukik mengalami berbagai masalah, sekarat dan mati. Penyakit tersebut antara lain, jamur dan kuman yang timbul dari kolam yang kotor.
  4. Dengan alasan menyenangkan tamu, seringkali penangkar membiarkan tamu untuk menyentuh dan memainkan tukik yang menyebabkan tukik ketakutan dan stress.
  5. Supaya tidak ribet dan memakan biaya, tukik diberi makan ikan mati cincang. Selain membunuh insting tukik untuk berburu makanan alami mereka, daging ikan cincang yang tidak termakan mengundang penyakit di dalam kolam itu.
  6. Penangkar seringkali bermasalah dengan pola pikir mereka yang menganggap penyu sebagai binatang ternak sehingga mereka tidak terlalu mempedulikan kesejahteraan penyu yang merupakan hewan langka yang dilindungi. Mereka cenderung tidak memiliki kepedulian terhadap penyu, jarang mengontrol kolam sehingga mereka tidak tahu ada tukik yang mati dan berpotensi menebarkan penyakit.
  7. Di habitat alami tukik adalah binatang soliter, yaitu tukik tidak bekerja sama untuk berburu makanan, melindungi diri dan bertahan hidup. Sementara di penangkaran tukik ditaruh di dalam kolam secara bergerombol dengan tingkat kepadatan kolam yang sangat tinggi. Hal ini menyebabkan tukik menjadi stress atau saling mangsa (kanibal).

Sementara masyarakat internasional mendengungkan isu kesejahteraan satwa untuk binatang ternak dan peliharaan, di Indonesia penyu yang nyata-nyata dilindungi oleh undang-undang masih saja diperlakukan tanpa memperhatikan aspek kesejahteraan satwa yaitu:

  1. Bebas dari rasa lapar dan haus: di dalam penangkaran seringkali tukik telat diberi makan, dengan alasan pengiritan biaya.
  2. Bebas dari rasa tidak nyaman: di penangkaran yang ada di Indonesia seringkali tukik telat diberi makan, ditaruh di dalam kolam atau bak penampung tukik dalam kepadatan yang tinggi. Jelas tukik tidak akan merasa nyaman dan stress.
  3. Bebas dari sakit, luka dan penyakit: faktanya kebanyakan penangkaran di Indonesia sama sekali tidak menyediakan obat untuk tukik sehingga seringkali mereka didapati sekarat karena stress, jamuran sekujur tubuhnya dan infeksi akut karena saling gigit.
  4. Bebas mengekspresikan perilaku alaminya: tukik adalah binatang soliter yang menjalani hidup sendiri, tetapi di penangkaran tukik diletakan bersama tukik-tukik yang lain dalam kepadatan yang tinggi. Akibatnya sesama tukik saling menggigit. Selain itu tukik juga membutuhkan belajar menyelam sedalam 3 meter, banyak penangkaran di Bali yang hanya menyediakan kolam sedalam hanya 10 cm.
  5. Bebas dari rasa stress dan tertekan: Kebanyakan penangkaran di Indonesia mendatangkan pengunjung sebanyak mungkin untuk mendapatkan uang. Tidak jarang pengunjung (utamanya anak-anak) mempermainkan tukik atau mengobok-obok kolam dengan tangan dan kaki. Sehingga tukik-tukik menjadi stress tidak mau makan dan mati.

Selain tukik tidak diperlakukan dengan memenuhi kaidah animal welfare, berikut adalah dampak yang nyata akibat dari praktek pembesaran tukik (headstarting):

  1. Tukik tidak dapat mengenali makanan alaminya dan tidak dapat berburu makanan hidup karena insting berburu mereka sudah tumpul akibat diberi makan manusia selama berbulan-bulan. Banyak sekali kasus tukik hasil pembesaran yang segera kembali ke pantai dalam keadaan kurus setelah satu minggu dilepaskan. Tukik-tukik ini gagal beradaptasi dengan habitat alami yang seharusnya.
  2. Karena sudah tergantung dengan manusia, tidak jarang tukik hanya berputar-putar di pulau dekat penangkaran dan mendatangi manusia dan perahu nelayan untuk meminta makan. Nelayan yang jahat akan memakai tukik sebagai umpan yang bagus untuk mendapatkan tangkapan yang besar.
  3. Yang paling parah adalah tukik tidak dapat menjalani siklus kehidupan alaminya sehingga mereka akan gagal menjalankan fungsinya di alam dan gagal meneruskan keturunan.

Dengan segala macam permasalahan yang timbul akibat kegiatan peternakan penyu dan kegiatan pembesaran tukik, maka pelestarian penyu yang serius dan bersungguh-sungguh dapat dilakukan dengan sealami mungkin tanpa praktek pembesaran tukik atau peternakan penyu. Kegiatan pembesaran tukik (headstart) di Indonesia menjadi rancu dengan kegiatan peternakan penyu (sea turtle farm) yang notabene dilakukan untuk mendapatkan keuntungan saja tanpa memperdulikan kelestarian penyu.

Masalah penyu terletak sepenuhnya pada perlakuan manusia, karena penyu tidak mendapatkan ancaman kepunahan apapun dari alam. Usaha konservasi penyu yang benar justru sebenarnya harus dititik beratkan kepada upaya edukasi secara langsung kepada masyarakat dan memberikan pemahaman yang benar mengenai siklus kehidupan penyu yang sebenarnya, dan memberikan penjelasan kepada masyarakat bagaimana cara berpartisipasi untuk membantu secara praktis upaya konservasi penyu yang baik dan benar.

Bahkan pemahaman konservasi yang baik dan benar juga harus diberikan kepada pelaku penangkaran karena banyak diantara mereka yang tidak sadar bahwa apa yang mereka lakukan selama ini membahayakan kelestarian penyu.

Pulau Balembangan

Pulau Balembangan seluas 9.3 hektar terletak pada koordinat  1°47’20.51″N, 118°59’47.32″E, yaitu sebuah wilayah yang termasuk wilayah administrasi Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.  Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan no.4 tahun 2018, pulau ini masuk dalam Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT). Selain berfungsi sebagai pertahanan keamanan wilayah ini juga berfungsi untuk perlindungan lingkungan hidup yang mendukung kegiatan perikananberkelanjutan dan kepariwisataan.  Pulau hutan ini tidak berpenghuni dan tidak dapat menyokong kehidupan mandiri karena tidak ditemukan cadangan air tawar.

Satwa dilindungi:

Pulau ini merupakan habitat peneluran penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dengan musim peneluran terjadi pada Mei – November (puncak peneluran Bulan Agustus) setiap tahunnya. Namun walaupun begitu, pada bulan-bulan bukan musim peneluran, Pulau Balembangan tidak pernah kosong dari kunjungan penyu. Selain penyu, terdapat beberapa satwa langka yang dapt ditemukan di Pulau Balembangan antara lain: berbagai jenis raptor (burung pemburu), ayam tambun (burung gosong), kepiting kenari, pari manta dan berbagai jenis mamalia laut di perairannya.

Osprey

Potensi gangguan:

Maraknya aksi destructive fishing dinilai sangat merugikan karena selain berpotensi membunuh penyu, aktivitas pengeboman ikan dan pembiusan ikan juga dapat membunuh satwa liar dilindungi yang lain. Pada survey perdana yang dilakukan oleh YPI pada Januari 2019, terdapat puluhan titik karang rusak berat bekas terkena ledakan bom ikan. Pada survey yang sama YPI juga menemukan lubang-lubang baru menganga bekas sarang penyu yang raib dijarah oleh pencuri telur. Dengan absennya tukik pada survey tersebut maka dapat diperkirakan bahwa 100% sarang penyu dijarah habis, tidak menyisahkan satu butir pun untuk memberikan kesempatan pada seekor tukik pun untuk menetas.

Aksi pengeboman ikan

Sejarah konservasi:

Sebelum tahun 2019 semua sarang penyu dijarah oleh para pencuri telur penyu. Tidak hanya sarang penyu saja, beberapa saksi melaporkan bahwa induk penyu kadang-kadang juga dibantai untuk diambil dagingnya. Satwa dilindungi yang lain juga tidak luput dari penjarahan antara lain burung tambun dan kepiting kenari. Satwa ini diburu untuk dikonsumsi atau diperdagangkan. Berdasarkan informasi di lapangan, telur-telur penyu itu dijarah oleh beberapa orang yang akan menggasak puluhan sarang sekaligus dalam satu malam. Setelah terkumpul, seluruh telur penyu itu akan diangkut dengan kapal besar.

Pada tahun 2017 PROFAUNA Indonesia dengan dukungan dari Turtle Foundation kerap melakukan patroli laut bersama dengan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) dengan jalur jelajah antara Biduk- Biduk, Mataha, Bilang-Bilangan, Sambit & Balembangan. Di Pulau Balembangan tim patroli gabungan menemukan adanya sisa-sisa upaya pembongkaran sarang penyu. Temuan ini kemudian dilaporkan oleh PROFAUNA kepada Wakil Bupati Berau (H.Agus Tantomo) dan beberapa institusi penegak hukum. Sejak saat ini patroli gabungan ditingkatkan untuk pencegahan penjarahan sarang.

Yayasan Penyu Indonesia (YPI) menandatangani perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Berau dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk pengelolaan konservasi penyu di Pulau Balembangan. Para Ranger YPI pertama kali mendarat di pulau ini pada tanggal 2 Februari 2019. Tugas mereka yang paling utama adalah untuk melakukan pencegahan penjarahan sarang penyu. Selain itu mereka juga melakukan pencatatan terhadap kunjungan induk penyu, jumlah sarang & telur, serta menghitung jumlah tukik yang berhasil menetas dan kembali ke laut.

Ranger YPI juga berkewajiban memelihara pulau yang menjadi habitat peneluran penyu, menjaga pulau bebas dari hal-hal yang dapat membahayakan penyu (mis: sampah plastik, kayu-kayu besar yang dapat menjepit penyu). Dalam 24 jam total para ranger melakukan patroli hingga 3 kali.

YPI berusaha supaya penyu, satwa liar lain dan habitatnya dapat terbebas dari gangguan manusia. Berkaitan dengan itu YPI menjalin kerjasama dengan para petugas penegak hukum. Beberapa bentuk kerjasamanya antara lain adalah patroli air bersama dan penjagaan pulau.

Dalam bertugas di pulau, jika menemukan pelanggaran, maka   para ranger YPI mengumpulkan bukti pelanggaran itu dalam bentuk foto, video & rekaman lain guna dilaporkan kepada aparat penegak hukum.  Dalam menjalankan tugasnya, para ranger YPI tunduk pada hukum yang berlaku di Indonesia dan patuh pada SOP yang berlaku.

Potensi wisata terbatas

Secara prinsipal YPI dapat bekerja sama dengan masyarakat lokal dalam pengelolaan pariwisata terbatas yang mengutamakan kelestarian lingkungan dan daya dukung pulau. Kegiatan wisata yang paling memungkinkan di pulau ini adalah pengamatan terhadap penyu bertelur.  Bersama dengan para ranger YPI, calon wisatawan dapat mengamati proses rescue tukik, rescue penyu, pendataan jumlah telur, dan rilis (pelepasan) tukik.

Pada malam hari para wisatawan dapat melakukan pengamatan bintang. Langit sangat terlihat cerah dan jelas, karena minimnya cahaya yang ada di Pulau Balembangan (cahaya terang tidak diijinkan di pulau ini).  Jika beruntung, wisatawan juga dapat mengamati kepiting kenari yang sangat tertarik dengan bau buah kelapa. Pada siang hari para wisatawan dapat melakukan snorkelling untuk melihat terumbu karang.

Wisata di Pulau Balembangan juga dapat menjadi satu rangkaian dalam kunjungan ke pulau-pulau lain di Kepulauan Derawan misalnya Pulau Maratua, Pulau Derawan dan Pulau Kakaban.

berau

Program Berau

Kabupaten Berau berada di bagian utara Provinsi Kalimantan Timur, letaknya berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Utara. Berau memiliki wilayah seluas 3,5 juta hektar dengan luas wilayah perairan 1,2 juta hektar, yang terkenal dengan pulau-pulau kecil dan gugusan terumbu karangnya yang menghasilkan hasil laut luar biasa untuk mendukung perekonomian Kabupaten Berau.

Pulau-pulau kecil di Perairan Berau merupakan habitat penyu hijau (Chelonia mydas) terbesar di Indonesia. Diantaranya adalah Pulau Belambangan, Sambit, Sangalaki, Semama, Mataha, Bilang-Bilangan, Maratua, Kaniyungan Besar, Kaniyungan kecil, Bakungan dan Nunukan. Selain menjadi peneluran bagi penyu hijau, pulau-pulau kecil tersebut juga menjadi tujuan penyu sisik (Eretmochelys imbricate) untuk meletakan telur.

Eksploitasi penyu masih saja terjadi di Kabupaten Berau dalam bentuk 3 hal yaitu:

  • Eksploitasi penyu atas dagingnya (diburu untuk dikonsumsi atau diperdagangkan terutama pada waktu-waktu tertentu seperti malam tahun baru, malam imlek dll)
  • Eksploitasi penyu atas telurnya (sarang-sarang penyu dijarah untuk diambil telurnya dan diperdagangkan. Sebagian Masyarakat Berau masih percaya bahwa telur penyu itu mengandung efek Aphrodisiac yang dapat memberikan keperkasaan bagi pria dewasa)
  • Eksploitasi penyu atas sisiknya (aksesoris berbahan dasar karapas penyu sisik ini digemari oleh konsumen lokal dan konsumen pendatang dalam negeri karena kelangkaannya. Selain langka, para konsumen ini juga percaya bahwa aksesoris jenis ini dapat membantu detoksifikasi)

Yayasan Penyu Indonesia bekerja sama dengan Turtle Foundation dan Protection of Forest and Fauna (PROFAUNA) telah bekerjasama untuk melakukan upaya mitigasi maraknya eksploitasi penyu di Kabupaten Berau. Beberapa upaya konsisten dilakukan antara lain:

  • Penjagaan Pulau Belambangan :

Sebelum dilaksanakannya program penjagaan, sarang-sarang penyu di pulau ini dijarah hingga 100% sehingga tidak ada sisa sebutir telur menetas menjadi tukik. Untuk itu perlu segera dilakukan upaya untuk menyelamatkan generasi penyu hijau sehingga mereka tidak punah. Terhitung sejak tanggal 28 Februari 2019 Yayasan Penyu Indonesia menerjunkan para rangernya untuk menjaga Pulau Belambangan.

  • School Visit

Yayasan Penyu Indonesia percaya bahwa edukasi adalah investasi jangka panjang guna menanamkan kecintaan terhadap lingkungan hidup, khususnya penyu. Sejak pertengahan tahun 2018 Yayasan Penyu Indonesia terus-menerus melakukan edukasi ke sekolah-sekolah mulai SD hingga SMA. Edukasi dilaksanakan dengan presentasi lisan, diskusi, permainan hingga pemutaran film.

  • Market Monitoring

Yayasan Penyu Indonesia bekerja sama dengan PROFAUNA secara teratur melakukan kunjungan ke pasar-pasar untuk memonitoring peredaran/perdagangan aksesoris berbahan dasar karapas penyu sisik. Jika ditemukan adanya perdagangan maka temuan itu akan dilaporkan kepada aparat yang berwajib.

Di Berau ada beberapa pulau kecil habitat peneluran penyu yang belum terjaga, Yayasan Penyu Indonesia berkoordinasi dengan para stake holder untuk mempertimbangkan upaya melakukan penjagaan di pulau-pulau tersebut.

Koalisi NGO Luncurkan Kampanye Keren Tanpa Sisik

Koalisi NGO yang terdiri dari PROFAUNA Indonesia, Yayasan Penyu Indonesia (YPI), Turtle Foundation dan Too Rare to Wear meluncurkan kampanye bertajuk “Keren Tanpa Sisik” untuk mengurangi perdagangan produk mengandung penyu sisik. Kampanye nasional itu diluncurkan di Denpasar, Bali pada hari Minggu (2/2/2020).

Dalam kampanye “Keren Tanpa Sisik” ini koalisi mengundang partisipasi aktif masyarakat untuk memerangi perdagangan produk yang mengandung penyu sisik melalui cara melaporkannya ke YPI lewat nomor WA 085879918717 dan email jayuli@turtle-foundation.org jika menemukan kasus perdagangan penyu sisik. Selain itu masyarakat juga bisa membantu dengan tidak membeli produk penyu sisik yang masih banyak dijual di beberapa daerah.

“Selain mendorong partisipasi masyarakat, kami juga akan mendorong dan bermitra dengan aparat penegak hukum untuk menangani perdagangan illegal produk yang mengandung penyu sisik,” kata Muhammad Jayuli, Juru Kampanye Keren Tanpa Sisik.

penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Indonesia masih tinggi, dengan nilai ekonomi diperkirakan sekitar Rp 5 milyar. Investigasi terbaru tim PROFAUNA Indonesia mengungkap fakta perdagangan produk penyu sisik illegal itu masih banyak terjadi di Bali, Nias Sumatera Utara dan juga dijual secara online.

Perdagangan produk mengandung karapas penyu sisik itu paling banyak dijual secara online. Selama bulan Agustus hingga September 2019, tim melakukan survey di 11 platform online untuk mengetahui perdagangan penyu sisik. Kesebelas platform yang disurvey itu adalah Facebook, Instagram, Shoppe, Tokopedia, Bukalapak, Carousell, Prelo, Kaskus, Belanjaqu, Blogspot dan website. Hasilnya ditemukan 1574 iklan dan 199 akun yang terkait perdagangan penyu sisik secara online.

Produk mengandung penyu sisik yang dijual secara online itu antara lain dalam bentuk cincin, gelang, kalung dan aksesoris lainnya. Jumlah total item yang ditawarkan secara online itu ada 29.326 item dengan nilai uang diperkirakan sekitar Rp 5 milyar.

Harga produk mengandung penyu sisik itu ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 15.000 untuk cincin yang sederhana, hingga jutaan rupiah untuk kipas tangan.

 “Selain faktor lemahnya penegakan hukum, penyebab maraknya perdagangan produk mengandung penyu sisik itu adalah akibat rendahnya kesadaran masyarakat yang masih membeli produk itu. Alasan itulah yang mendorong koalisi NGO meluncurkan kampanye secara nasional untuk mengajak masyarakat berhenti membeli produk yang mengandung penyu sisik,” kata Rosek Nursahid, Ketua PROFAUNA Indonesia.

Penyu sisik sudah masuk jenis satwa yang dilindungi undang-undang. Artinya penangkapan atau perdagangannya, baik dalam kondisi hidup maupun bagian tubuhnya seperti sisiknya itu dilarang.

Menurut UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan satwa dilindungi seperti penyu itu diancam hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Fakta Penyu Sisik

  1. Nama latin penyu sisik (Eretmochelys imbricata)
  2. Penyu sisik adalah salah satu spesies penyu terkecil
  3. Beberapa cirinya antara lain;  paruh sempit, runcing, dan karapas berpola indah
  4. Daerah sebaran penyu sisik yaitu perairan pantai tropis yang hangat, mulai dari Samudra Atlantik,  Pasifik hingga Samudra Hindia
  5. Sulit untuk mengetahui dengan tepat jumlah populasi Penyu Penyu sisik, tetapi penelitian menunjukkan bahwa hanya ada 5 populasi di seluruh dunia, yang terdiri dari sekitar 8.000 penyu total, dan dengan hanya 1.000 betina bersarang setiap tahunnya
  6. Induk penyu sisik akan meninggalkan laut untuk bertelur di pantai. Mereka akan memilih tempat secara cermat, menggali lubang, bertelur, menutupinya dan kembali ke laut . Telur akan tetap terkubur selama sekitar 60 hari hingga sebelum akhirnya menetas.
  7. Penyu sisik bersarang setiap 2 hingga 3 tahun dan menghasilkan 60 hingga 200 telur hanya dalam satu sarang saja
  8. Koloni Hawksbill terbesar di dunia bersarang di Pulau Milman di Queensland, Australia
  9. Penyu sisik adalah omnivora. Paruhnya yang runcing dan sempit itu mirip seperti burung pemangsa. Bentuk dan panjangnya paruh itu memungkinkan penyu mencapai celah-celah kecil di terumbu karang untuk mengambil spons dan invertebrata (hewan tak bertulang belakang) lainnya
  10. Spons terumbu karang adalah sumber makanan utama penyu sisik. Bagi kebanyakan hewan, spons ini beracun karena spikula (duri mirip kaca) yang dikandungnya, namun penyu sisik kebal terhadap hal ini sehingga tidak banyak hewan yang mampu menyaingi penyu sisik memakan spons ini
  11. Dengan adanya penyu sisik memakan spons, maka hal ini memberikan ruang bagi kehidupan laut lainnya di terumbu karang, karena spons mengambil banyak tempat di ekosistem terumbu karang. Hal ini menjadikan penyu sisik sebagai bagian penting dari ekosistem, berkontribusi pada kesehatan terumbu karang dan kehidupan laut yang lebih luas
  12. Penyu sisik juga memakan anemon, kerang-kerangan, dan ubur-ubur. Hal ini menjadikan penyu sisik dikenal sebagai predator oportunistik.
  13. Karapas penyu sisik yang cantik itu tangguh dan efektif melindungi mereka dari pemangsa. Namun, mereka masih menjadi mangsa hiu, buaya, gurita, dan pemangsa terbesar, yaitu manusia
  14. Penyu sisik telah berenang di lautan lebih lama daripada kehidupan manusia di planet bumi ini. Reptil ini telah ada selama 100 juta tahun terakhir.
  15. Sayangnya, makhluk cantik ini adalah spesies penyu yang paling terancam puna. Perdagangan aksesoris berbahan dasar karapas penyu sisik merupakan faktor utama yang mengganggu kelestariannya.
  16. Karapasnya itu bermotif emas dan coklat yang indah, menjadikan penyu sisik diburu dan dijual secara ilegal di pasar gelap. Sisik pada karapas mereka digunakan untuk membuat produk hias dan perhiasan berharga
  17. Di Jepang, karapas Penyu sisik, yang dikenal sebagai “bekko”, telah menjadi bagian dari budaya tradisional selama 300 tahun dan bahkan digunakan dalam gaun pengantin tradisional
  18. Perdagangan cangkang jenis penyu sisik ini ilegal di mata hukum. Meskipun demikian, cangkang Penyu sisik masih ditemukan di souvenir dan perhiasan. Bahkan, itu adalah barang ilegal yang paling sering disita oleh petugas bea cukai

penyu sisik di Kepulauan Derawan (Kabupaten Berau)

Perdagangan Ilegal Produk Mengandung Penyu Sisik di Indonesia Masih Tinggi, Nilainya Sekitar Rp 5 Milyar

Perdagangan produk yang mengandung karapas penyu sisik (Eretmochelys imbricata) di Indonesia masih tinggi, dengan nilai ekonomi diperkirakan sekitar Rp 5 milyar. Investigasi terbaru tim PROFAUNA Indonesia mengungkap fakta perdagangan produk penyu sisik illegal itu masih banyak terjadi di Bali, Nias Sumatera Utara dan juga dijual secara online.

Perdagangan produk mengandung karapas penyu sisik itu paling banyak dijual secara online. Selama bulan Agustus hingga September 2019, tim melakukan survey di 11 platform online untuk mengetahui perdagangan penyu sisik. Kesebelas platform yang disurvey itu adalah Facebook, Instagram, Shoppe, Tokopedia, Bukalapak, Carousell, Prelo, Kaskus, Belanjaqu, Blogspot dan website. Hasilnya ditemukan 1574 iklan dan 199 akun yang terkait perdagangan penyu sisik secara online.

Produk mengandung penyu sisik yang dijual secara online itu antara lain dalam bentuk cincin, gelang, kalung dan aksesoris lainnya. Jumlah total item yang ditawarkan secara online itu ada 29.326 item dengan nilai uang diperkirakan sekitar Rp 5 milyar. Harga produk mengandung penyu sisik itu ditawarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 15.000 untuk cincin yang sederhana, hingga jutaan rupiah untuk kipas tangan.

Perdagangan Penyu di Bali dan Nias

Selain diperdagangan secara online, produk mengandung penyu sisik juga masih dijual di banyak toko di Bali dan Nias. Survey tim pada bulan Juni-September 2019 di Bali, dari 353 toko yang dikunjungi itu ada 25 toko yang menjual produk mengandung penyu sisik.

Lokasi utama di Bali yang banyak menjual produk mengandung penyu sisik berada di Sukawati. Dari 22 toko yang dikunjungi, tercatat ada 13 toko yang menjual produk penyu sisik. Selain Sukawati, produk mengandung karapas penyu sisik juga dijual di Denpasar, Dalung dan Ubud.

Sementara itu perdagangan produk mengandung penyu sisik di Pulau Nias, ditemukan di 4 lokasi yaitu di kota Gunung Sitoli, Desa Bawomataluo, Sorake dan Teluk Dalam. Dari 14 toko yang dikunjungi, semuanya tercatat menjual produk mengandung penyu sisik.

Produk mengandung penyu sisik yang ditawarkan di Pulau Nias itu lebih bervariasi dibandingkan yang ada di Bali. Di Nias ditemukan produk dalam bentuk tas pinggang, jepit rambut, alat petik gitar, kotak kartu, anting, gantungan kunci, tali jam tangan dan miniatur rumah tradisional Nias.

Koalisi NGO Siap Kampanye Anti Perdagangan Penyu Sisik

Masih maraknya perdagangan produk mengandung penyu sisik di Indonesia itu mendorong sejumlah organisasi non pemerintah (NGO) akan melakukan kampanye untuk memerangi perdagangan penyu sisik tersebut. Kampanye yang mengusung jargon “Keren Tanpa Sisik” itu akan dilakukan oleh koalisi NGO yang terdiri dari PROFAUNA Indonesia, Yayasan Penyu Indonesia (YPI), Too Rare to Wear dari USA dan Turtle Foundation International dari Jerman.

“Selain faktor lemahnya penegakan hukum, penyebab maraknya perdagangan produk mengandung penyu sisik itu adalah akibat rendahnya kesadaran masyarakat yang masih membeli produk itu. Alasan itulah yang mendorong koalisi NGO akan segera meluncurkan kampanye secara nasional untuk mengajak masyarakat berhenti membeli produk yang mengandung penyu sisik,” kata Rosek Nursahid, Ketua PROFAUNA Indonesia.

Penyu sisik sudah masuk jenis satwa yang dilindungi undang-undang. Artinya penangkapan atau perdagangannya, baik dalam kondisi hidup maupun bagian tubuhnya seperti sisiknya itu dilarang.

Menurut UU nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, perdagangan satwa dilindungi seperti penyu itu diancam hukuman penjara 5 tahun dan denda Rp 100 juta.

Sumber :

https://www.profauna.net/id/content/perdagangan-ilegal-produk-mengandung-penyu-sisik-di-indonesia-masih-tinggi-nilainya-sekitar

Penyu Tersesat Karena Bom Ikan?

Pada suatu hari di Bulan Mei 2019, Kepala Regu Petugas Lapangan Yayasan Penyu Indonesia melaporkan adanya seekor induk penyu hijau (Chelonia mydas) yang tersesat jauh di dalam hutan Pulau Belambangan. Saat itu induk penyu itu ditemukan dalam keadaan tidak bergerak karena badannya terlilit akar dan pergerakannya terhambat oleh anakan pohon yang tersebar luas di hutan di pulau itu.

Kemudian para ranger memutuskan untuk menggiring penyu tersebut ke arah laut dengan membersihkan jalan penyu itu. Proses evakuasi ini berlangsung selama 30 menit sebelum penyu itu berhasil kembali berenang ke laut.

Video penyu betina yang tersesat saat memasuki hutan di Pulau Belambangan

Tidak diketahui secara pasti kenapa penyu betina ini tersesat dan memutuskan untuk masuk jauh ke dalam hutan. Ini adalah kasus pertama yang terjadi di Pulau Belambangan.

Pada tahun 2018 yang lalu, tim kecil YPI dikirim ke Cape Verde – Afrika, untuk studi banding pengelolaan penyu yang diselenggarakan oleh sebuah organisasi lokal yang bernama Fundacao Tartaruga di sebuah pulau yang dinamakan Boa Vista. Di sana ranger YPI melaporkan banyak sekali induk penyu tempayan (Caretta careta) yang tersesat hingga jauh ke daratan. Alasan tersesatnya penyu tempayan di tempat ini adalah karena polusi cahaya yang dihasilkan oleh sebuah hotel milik perusahaan swasta dari Spanyol. Induk-induk penyu tempayan itu kebingungan dengan cahaya lampu yang ada di sana, sehingga masuk ke daratan lebih dalam, kehilangan orientasi arah laut dan akhirnya mati kering oleh panasnya matahari padang pasir Boa Vista.

Tim YPI yang berusaha menyelamatkan penyu tempayan persis di sebuah hotel Spanyol di Pulau Boa Vista

Akan tetapi tidak ada polusi cahaya di Pulau Belambangan itu sendiri, melainkan sumber cahaya terdekat dari menara lampu suar di pulau terdekat sejauh 5 km. Sumber cahaya yang nampak adalah bagan-bagan di Karang Besar Batu Putih dan cahaya Ibu Kota Berau, Tanjung Redeb yang jaraknya ratusan mil dari Pulau Belambangan yang terpencil ini. Jadi kemungkinan penyu tersesat karena disorientasi akibat polusi cahaya, sangat kecil.

Sekedar informasi, pada Bulan Januari 2019 lalu di sepanjang pantai di Israel, ditemukan sekurangnya 96 penyu dengan rincian:

  • 69 ekor penyu tempaya (Caretta caretta)
  • 16 ekor penyu hijau (Chelonia mydas)
  • 11 ekor penyu lain tidak teridentifikasi

Semuanya menderita luka-luka dan dibawa ke Israel Nature & Park Authority (INPA) dan Sea Turtle Rescue Centre (STRC). Semua penyu yang didokumentasikan dalam keadaan hidup dan mati itu dilaporkan oleh masyarakat ke sambungan hotline (INPA), sosial media dan para voluntir STRC.

Triase medis, perlakuan intensif, pengobatan konvensional dan cairan dilakukan oleh tim yang dipimpin oleh Dr.Itzhak Aiznberg. Post mortem juga dilakukan kepada 7 ekor sampel penyu.

CT scan dari penyu-penyu hidup yang terluka menguak sebuah informasi bawa semuanya menunjukan gejala trauma jaringan: pulmonary hemorrhage di paru-parudan pengumpulan cairan (infeksi)  di telinga tengah penyu. Gejala semacam itu biasanya diakibatkan oleh trauma gelombang kejut (dari ledakan) bawah air pada level yang signifikan. Misalnya upaya eksplorasi   minyak bumi oleh kapal-kapal besar yang menggunakan metode peledakan dengan menggunakan udara yang dikompresi dan dilepas dengan sebuah air gun. Kegiatan ini biasanya disebut dengan eksplorasi minyak dengan menggunakan teknik seismik untuk menciptakan sebuah peta riil 3 dimensi.

Sejauh ini tidak ada informasi terkait adanya kegiatan seismik di Perairan Kabupaten Berau, tidak ada potensi gelombang kejut di bawah air. Namun dilaporkan oleh masyarakat dan nelayan bahwa pengeboman ikan masih marak terjadi. Pada tanggal 23 Mei 2019 lalu tim YPI bersama dengan Kepolisian Airud melakukan patroli di Karang Muaras, hanya dalam kurun waktu 30 menit saja terjadi 2 kali ledakan bom yang dapat disaksikan dari jauh. Tim berusaha melakukan pendekatan pada kapal-kapal yang diduga melakukan pengeboman ikan itu namun mengalami kandas karena air surut. Tim hanya mendapatkan beberapa gambar dan video dari drone yang dilepaskan menuju para pengebom itu.

Patroli tim YPI dan Kepolisian Air dan Udara di Karang Muaras, Berau.

Dengan maraknya pengeboman seperti itu sementara dapat diduga kasus tersesatnya induk penyu hijau akibat gelombang kejut dari bom ikan yang melukai telinga tengah penyu yang pada akhirnya mengacaukan navigasi dari penyu-penyu ini.