Pengendalian Hama Tikus

YPI memiliki ijin kepengelolaan konservasi penyu di Pulau Belambangan semenjak tanggal 11 Februari 2019, dan secara teknis YPI mulai menerjunkan petugas lapangan pada tanggal 28 Februari 2019. Namun jauh sebelum itu, tim survei sudah melakukan peninjauan Pulau Belambangan sejak Tahun 2016.

Kesan pertama tim survei yang mengunjungi pulau ini adalah angker dan kotor. Pulau seluas 9,3 hektar ini memiliki hutan yang masih lebat, tidak dihuni manusia dan pantainya dipenuhi oleh sampah plastik, tidak hanya sampah lokal, namun juga sampah mancanegara macam Malaysia, Filipina dan Cina.

Pada waktu itu tim survei sudah cukup sedih dengan keadaan induk penyu yang akan bertelur diantara sampah-sampah plastik tersebut. Itu masih belum apa-apa jika dibandingkan dengan dugaan seberapa banyak penyu-penyu itu menelan sampah plastik, atau berapa banyak tukik-tukik yang mati karena terjebak kantong kresek. Tim survei mengira bahwa plastik adalah “predator utama” dan masalah terbesar bagi kelestarian penyu di sini.

Tapi ternyata anggapan tim itu salah. Pada malam tiba tim survey berkemah pada salah satu sudut hutan di pulau itu. Suasananya tidak pernah sunyi karena deburan ombak selalu membuat gaduh. Namun walaupun gaduh seperti itu, anggota tim masih mendengar suara langkah kaki, seolah-olah ada yang mengintai.

Suara tersebut tidak pernah pergi, selalu menyertai sepanjang malam itu. Sewaktu salah seorang tim survey menembakkan senter jumbonya dia melihat beberapa pasang cahaya berlompat-lompat. Ternyata tikus. Pagi hari tim menemukan adanya jejak-jejak langkah mahluk kecil itu memenuhi pasir, setelah diselidiki ternyata tikus-tikus itu sangat ganas karena memakan segalanya, mulai kelomang hingga anak penyu (Tukik).

Tim survei mencatat peristiwa ini sebagai persiapan kunjungan berikutnya ke Pulau Belambangan. Pada kesempatan berikutnya tim YPI membawa sejumlah racun “beras merah” produksi Cina. Di Berau racun ini mahalnya bukan main, namun keefektifannya tidak lagi diragukan. Tikus-tikus itu langsung mati begitu mengunyah beras merah tersebut.

Pernah dalam satu malam sekali pasang racun itu tim YPI dapat membunuh 6 tikus sekaligus. Pada saat artikel ini dibuat sekurangnya lebih dari 60 tikus menjadi korban keganasan racun beras merah tersebut.

Hati-hati, tikus dapat memangsa anak penyu.

Enam tikus dalam satu malam

Kasus Keracunan Micronesia

Kasus Keracunan Masal Micronesia 15 Oktober 2010
  1. Semua jenis penyu memiliki racun yang dinamakan Chelonitoxic, terutama penyu sisik
  2. Istilah keracunan penyu disebut dengan Chelonitoxism
  3. Kandungan di dalam Chelonitoxic itu antara lain:
    • Logam berat (Cadmium dan Mercury)
    • Biotoxic, seperti yang terkandung pada alga biru dan hijau (lyngbyatoxin A from Lyngbya majuscula) yang juga merupakan makanan dari penyu tersebut
    • Campuran senyawa organik pestisida (chlordane and polychlorinated biphenyls)
  4. Dampak dari Chelonitoxism antara lain adalah pusing, muntah, pembengkakan otak, gelisah dan koma.
  5. Walaupun dampak berbahaya dari makan penyu sisik ini terjadi di seluruh dunia, namun masyarakat masih tetap memakan penyu ini.

KERACUNAN MASAL MICRONESIA

  1. Terdapat pesta penyu yang diadakan pada tanggal 15 Oktober 2018 di Micronesia jam 16:00
  2. Pada tanggal 15 Oktober 2010 dilaporkan tiga anak mendadak meninggal dunia dan 20 orang dewasa dilarikan ke rumah sakit setelah mengkonsumsi hidangan dari penyu sisik. Beberapa orang dewasa dilaporkan mengalami radang tenggorokan dan 6 anjing mati
  3. Kasus 1: seorang anak perempuan 5 tahun mengalami mual dan muntah setelah 24 jam makan daging penyu, dirinya mengeluhkan haus yang sangat, tetapi dirinya menolak diberikan minum dalam bentuk apapun. Setelah 36 jam anak tersebut tidak sadarkan diri dan meninggal tidak lama setelahnya.
  4. Kasus 2: adalah seorang balita dua tahun perempuan adik dari Kasus 1. Ibunya mengatakan bahwa balita ini bangun dengan keluhan gatal-gatal, sakit perut dan rewel. Balita ini tenang setelah diberikan ASI oleh ibunya (yang juga mengkonsumsi daging penyu). Beberapa saat setelah pemberian ASI ini balita ini meninggal.
  5. Kasus 3: adalah seorang balita dua tahun laki-laki yang tidak memakan daging penyu, namun mendapatkan ASI dari ibunya yang memakan daging penyu dalam jumlah besar. Anak ini mengalami diare dan meninggal dua hari setelah pesta penyu tersebut.
  6. Kasus 4: adalah seorang laki-laki usia 21 tahun yang memakan penyu dalam pesta tersebut (15 Oktober 2010 pukul 16:00). Setelahnya dia mengatakan mengalami pusing tetapi tidak muntah. Pada malam harinya pria tersebut muntah 10 kali, kemudian tidur. Pagi harinya dia merasa baikan dan pergi melaut. Namun kemudian dia mengalami haematemesis (muntah darah karena pendarahan lambung) dan dievakuasi ke rumah sakit menggunakan kapal. Di dalam kapal laki-laki tersebut meronta dan tidak dapat mengenali keluarganya. Supir ambulance mengaku bahwa laki-laki tersebut berbau aneh yang tidak pernah dia alami sebelumnya. Di rumah sakit dia gelisah dan melakukan perlawanan, sehingga dirinya harus dibius. Dia harus mendapatkan arsupan cairan intravena dan ditempatkan di ruang perawatan intensif. Berdasarkan pengamatan para dokter pasien ini mengalami pembengkakan otak, dan berdasarkan pengamatan syaraf ditemukan bahwa pasien menderita kelumpuhan total dengan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari pupil matanya. Keadaannya tetap seperti itu hingga tanggal 21 Oktober 2010 hingga mengalami stress pada sistem pernapasannya dan harus mendapatkan bantuan pernapasan lewat mesin. Kemudian pada tanggal 22 Oktober 2010 pukul 04:00 atas permintaan keluarganya pihak rumah sakit melepas alat bantuan napas mekanik dan meninggal segera setelahnya.
  7. Kasus 5: adalah saudara laki-laki dari kasus 4 yang mengalami pusing-pusing tiga jam dari pesta makan daging penyu tersebut, namun tidak muntah. Dirinya melaporkan rasa haus yang sangat. Pada hari ke 3 dia melaporkan sakit kepala, demam, lemah, disorientasi dan gelisah. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan masukan cairan anti racun di intravena pada tanggal 19 Oktober 2010. Selanjutnya pihak rumah sakit mengatakan bahwa pasien mengalami kegelisahan yang sangat dan melawan sehingga terpaksa dibius. Laki-laki ini meninggal jam 01:00 pada tanggal 21 Oktober 2010.
  8. Kasus 6: adalah anak laki-laki usia 4 tahun yang mengalami muntah pada tanggal 16-17 Oktober 2010. Setelah itu baik-baik saja hingga dirinya melaporkan radang tenggorokan pada tanggal 21 Oktober 2010. Pada pagi hari tanggal 22 Oktober 2010 dia muntah satu kali, pingsan dan kemudian meninggal.

5 Fakta Penyu Belimbing

1. Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) adalah penyu terbesar

adalah penyu sekaligus reptil terbesar yang hidup. Panjangnya mencapai 1,9 meter dengan berat mencapai 910 kg. Penyu Belimbing juga termasuk unik diantara jenis penyu karena daripada memiliki karapas yang keras, tulang cangkang penyu belimbing dibungkus kulit yang berlemak.

2. Penyu Belimbing adalah penyelam Tangguh

Penyu belimbing dapat menyelam sedalam paus penyelam dalam. Mereka ini sangat mampu menyelam hingga kedalaman hampir mencapai 1.200 meter. Kemampuan menyelam seperti ini membantu penyu belimbing dalam mendapatkan mangsa (ubur-ubur), menghindari predator dan menghindari panas ketika mereka melewati laut hangat. Sebuah studi tahun 2010 menemukan bahwa penyu ini dapat mengatur daya apung mereka saat menyelam dalam-dalam dengan mengatur jumlah udara yang mereka hirup di permukaan.

3. Penyu Belimbing adalah penjelajah dunia

Penyu belimbing adalah penyu yang paling jauh jangkauannya. Mereka juga memiliki jangkauan terluas, karena mereka memiliki sistem pendingin tubuh dan banyak minyak dalam tubuh mereka yang memungkinkan mereka untuk menjaga suhu tubuh mereka lebih tinggi dari air laut sekitarnya – oleh karena itu, mereka dapat mentolerir daerah dengan suhu air yang lebih dingin . Penyu-penyu ini ditemukan di utara Newfoundland, Kanada, dan sejauh selatan Amerika Selatan. Mereka umumnya dianggap sebagai spesies pelagis, tetapi juga dapat ditemukan di perairan yang lebih dekat ke pantai.

4. Penyu Belimbing memakan ubur-ubur dan mahluk laut berbadan lembek yang lainnya.

Sangat luar biasa bahwa hewan sebesar ini dapat hidup dari apa yang mereka makan. Penyu belimbing terutama memakan hewan bertubuh lunak seperti ubur-ubur dan salp (sejenis ubur-ubur). Mereka tidak memiliki gigi tetapi memiliki tonjolan tajam di mulut mereka yang membantu menangkap mangsa dan duri di tenggorokan dan kerongkongan untuk memastikan mangsa bisa masuk ke tenggorokan, tetapi tidak keluar. Keberadaan penyu ini penting untuk jaring makanan laut karena mereka dapat membantu menjaga populasi ubur-ubur yang berlebihan. Karena makanan mereka, penyu belimbing mungkin terancam oleh puing-puing laut seperti kantong plastik dan balon, yang mereka mungkin keliru sebagai mangsa.

5. Penyu Belimbing terancam punah

Penyu belimbing terdaftar di Endangered Species Act sebagai satwa terancam punah, dan sebagai “hampir punah” di Daftar Merah IUCN. Populasi penyu ini di Samudra Atlantik tampaknya lebih stabil daripada populasi Samudra Pasifik. Ancaman terhadap penyu belimbing meliputi terjerat alat tangkap dan puing-puing laut, menelan sampah plastik, pencurian telur, dan tertabrak kapal. Anda dapat membantu dengan membuang sampah secara bertanggung jawab, mengurangi penggunaan plastik, tidak pernah melepaskan balon, mengawasi penyu ini berperahu, dan dengan mendukung organisasi penelitian, penyelamatan, dan rehabilitasi penyu.

Mitos Telur Penyu

  • Mitos   : dipercaya bahwa telur penyu dapat meningkatkan gairah seksual kaum pria
  • Fakta   : telur penyu mengandung kolestrol yang sangat tinggi dibanding telur ayam, sehingga berpotensi untuk menyumbat pembuluh darah, termasuk pembuluh darah disekitar alat kelamin pria. Hasilnya, mengkonsumsi telur penyu menambah resiko terjadinya impontensi dikemudian hari.
  • Mitos   : protein yang terkandung di dalam telur penyu dipercaya lebih tinggi dari telur ayam
  • Fakta   : Kandungan protein yang terkandung pada telur penyu tidak jauh berbeda daripada yang terkandung di telur ayam. Kandungan protein di telur penyu adalah 13,04%, sementara pada telur ayam adalah 11,80%. Sementara kandungan lemak pada telur penyu adalah 2x lebih tinggi daripada telur ayam, sehingga ini berpotensi untuk menambah resiko kolesterol jahat dalam tubuh (Irawati dan Harfiandri 2004)

Penyu (daging, darah, organ dan telur) terindikasi mengandung parasit, bakteria, biotoksin dan zat pencemar, seperti logam berat… karena:

  1. Penyu berenang melalui laut yang semakin tercemar
  2. Penyu berumur panjang sehingga dia lama telah melakukan kontak dengan pencemaran
  3. Penyu berada di tingkat atas rantai makanan, sehingga zat pencemar dalam makanannya terakumulasi di dalam tubuh penyu.

Kandungan ini terbukti dapat menimbulkan gangguan syaraf, penyakit ginjal, kangker hati, serta berpengaruh kepada perkembangan janin dan anak (A. Alonso Aguirre, et al, Eco health Journal consorsioum, 2006)

Tidak semua masyarakat mempercayai bahwa telur penyu dapat mendorong gairah seksual, contohnya di Boa Vista, Cape Verde-Afrika, masyarakatnya hanya berburu daging penyu, sementara telur penyu sama sekali tidak disentuh.

Tingginya permintaan telur sebagai “viagra” telah membuat pemburu telur penyu gencar melakukan aktivitas pengambilan dan perdagangan telur penyu

Fibropapillomatosis

Fibropapillomatosis adalah penyakit yang paling banyak menyerang penyu. Kondisi ini ditandai dengan adanya tumor epitel jinak tetapi akhirnya melemahkan pada permukaan jaringan biologis. Virus herpes diyakini sebagai agen penyebab penyakit, sementara lintah penyu diduga vektor mekanik, menularkan penyakit ini ke penyu lain. Penyakit ini diduga diaikbatkan banyak penyebab, termasuk fase pertumbuhan tumor yang mungkin disebabkan oleh biotoksin atau kontaminan lain. Fibropapillomatosis ada di seluruh dunia, tetapi paling menonjol di iklim yang lebih hangat, yang mempengaruhi hingga 50% -70% dari beberapa populasi.

Fibropapillomatosis adalah penyakit tumor jinak penyu, terutama penyu hijau, (Chelonia mydas). Walau begitu penyakit ini juga telah dilaporkan menyerang penyu tempayan (Caretta caretta), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu kempi (Lepidochelys kempii), dan penyu belimbing (Dermochelys coriacea). Fibropapillomatosis paling sering ditemukan secara eksternal di sekitar ketiak, alat kelamin, leher, mata, dan ekor penyu, tetapi juga terjadi di dalam dan sekitar mulut, dan jarang di organ dalam atau di karapas. Ini, pada gilirannya, menghambat penglihatan, makan, dan gerakan. Sekitar 25-30% penyu dengan tumor eksternal juga memiliki tumor internal, terutama di jantung, paru-paru dan ginjal.

Penyakit ini menyerang paling banyak penyu hijau muda dan remaja, sementara itu jarang terjadi pada penyu dewasa. Diketahui bahwa tumor ini dapat mengalami kemunduran dan disembuhkan, yang telah didokumentasikan pada beberapa individu, bahkan ketika tumornya parah. Tetapi apa yang menyebabkan pengurangan tumor ini tidak diketahui. Kemungkingan kedua, individu remaja dengan penyakit ini mungkin mati sebelum mencapai usia dewasa

Kasus penyakit pertama yang didokumentasikan adalah pada tahun 1938 di Key West, Florida. Studi jangka panjang tidak menemukan tanda-tanda penyakit ini di pantai Atlantik Florida pada 1970-an, tetapi selama 1980-an Fibropapillomatosis tercatat menjangkiti 28% -67% populasi. Hari ini, insiden setinggi 92% telah dilaporkan di Teluk Kaneohe, Oahu, Hawaii. Secara umum, Fibropapilomatosis paling menonjol di iklim yang lebih hangat. Penelitian terbaru menemukan bahwa FP disebabkan oleh stres dan tumor telah diamati pada penyu yang merupakan bagian dari pariwisata. Diperkirakan bahwa kehadiran wisatawan menyebabkan stres pada penyu.

Fibropapilomatosis adalah penyakit menular dengan penularan horizontal. Virus alphaherpes yang disebut fibropapilloma-related turtle herpesvirus (FPTHV) diyakini sebagai agen penyebab penyakit, meskipun tidak ada bukti nyata dari penyebabnya. Alasan untuk kepercayaan ini adalah karena hampir semua sampel jaringan yang diuji dari penyu membawa bahan genetik dari virus herpes ini, bervariasi antara 95 dan 100% tergantung pada berbagai penelitian dan lokasi. Jumlah DNA herpesvirus dalam jaringan tumor adalah 2,5-4,5 logaritma lebih tinggi daripada di jaringan yang tidak terinfeksi. Virus herpes FPTHV telah ditemukan di penyu yang bebas dari Fibropapillomatosis dan ini menunjukkan bahwa perkembangan FP adalah multifaktorial dan bahkan mungkin melibatkan semacam fase mempromosikan tumor. Penelitian menemukan bahwa penyakit ini menunjukkan penyebab multifaktorial, bukan faktor tunggal atau agen. Kemungkinan faktor termasuk beberapa parasit, bakteri, polutan lingkungan, sinar UV, perubahan suhu air dan biotoxin. Selain itu faktor fisiologis seperti stres dan status imunologis tampaknya terkait dengan penyakit ini.

Jenis lintah Ozobranchus dianggap sebagai vektor mekanis dari virus herpes, menularkan virus dari satu penyu ke yang lain. Lintah ini adalah ektoparasit penyu yang umum yang secara eksklusif memakan darah penyu dan beberapa lintah telah ditemukan membawa lebih dari 10 juta salinan DNA herpesvirus. Penyu hijau adalah herbivora dan memakan lamun dan makroalga. Sekali lagi, kausalitas belum disimpulkan, tetapi hubungan tampaknya ada antara distribusi terutama dinoflagellata dan terjadinya Fibropapilomatosis. Penyu dengan Fibropapillomatosis ditemukan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Mereka memiliki jumlah leukosit fagosit yang lebih tinggi (terutama heterofil) dibandingkan dengan penyu sehat, yang tampaknya merupakan efek dari Fibropapilomatosis, karena sebagian besar terbukti pada individu dengan tumor parah. Ini lebih lanjut mendukung hipotesis herpesvirus sebagai agen penyebab.

Fibropapillomatosis terkait erat dengan, jejak nitrogen, dan makroalga invasif. Hubungan terkuat dengan FP adalah dengan tipe habitat, terutama peningkatan aktivitas antropogenik (manusia) yang menyebabkan jejak nitrogen tinggi di lingkungan sekitar tempat penyu hijau ditemukan. Pengamatan mendukung hipotesis bahwa habitat dekat pantai memiliki korelasi kuat dengan penyakit, karena individu yang baru keluar dari fase kehidupan pelagis (laut lepas) tidak pernah ditemukan dengan tumor, dan ketika bermigrasi ke zona laut yang lebih dangkal, seperti zona neritic, individu masih tetap bebas dari Fibropapillomatosis, tetapi ketika memasuki sistem laguna, penyu dapat terinfeksi. Fibropapillomatosis juga dikaitkan dengan kualitas habitat yang buruk, sementara Fibropapillomatosis tidak ada di beberapa habitat dengan kualitas yang baik.

Karakter Fisik Penyu

Ukuran

 Jantan dan betina penyu berukuran sama.

  1. Panjang penyu hijau mencapai sekitar 78 hingga 112 cm dan lebar 68 hingga 186 kg. Individu terbesar yang dicatat adalah 1,5 m (5 kaki) dan 395 kg.
  2. Ukurna penyu hitam mencapai sekitar 59 cm hingga 117 cm dengan berat mencapai 42 kg hingga 126 kg.
  3. Penyu Kempi dan Penyu Lekang adalah spesies terkecil, dengan ukuran mencapai sekitar 55 cm hingga 65 cm. Beratnya mencapai 30 kg hingga 50 kg
  4. Panjang penyu Tempayan mencapai sekitar 82 cm hingga 105 cm , dengan berat 66 kg hingga 101 kg.
  5. Panjang penyu sisik mencapai sekitar 53 cm hingga 114 cm degan berat 27 kg hingga 86 kg.
  6. Panjang penyu pipih mencapai sekitar 81 cm hingga 97 cm dengan berat 60 kg hingga 84 kg.
  7. Penyu belimbing adalah penyu terbesar yang hidup. Panjang penyu belimbing dewasa mencapai sekitar 1,2 m hingga 1,9 m. Dengan berat antara 200 kg hingga 506 kg Penyu belimbing terbesar yang tercatat adalah 916 kg.

Bentuk tubuh.

Penyu ditandai dengan cangkang besar yang ramping dan kepala serta anggota badan yang tidak dapat ditarik kembali.

Warna.

  1. Bergantung pada spesiesnya, warna penyu bervariasi. Mereka dapat berwarna hijau zaitun, kuning, coklat kehijauan, atau hitam.
  2. Penyu hijau mendapat namanya dari warna lemak tubuhnya. 

Sirip.

  1. Seekor penyu tidak dapat menarik kembali anggota tubuhnya ke dalam cangkangnya seperti halnya kura-kura darat.
  2. Sirip disesuaikan untuk berenang. Penyu rentan terhadap predator di darat.
  3. Kaki depan (front flipper) menyerupai dayung.

a) Sirip panjang menyatu di seluruh sirip.

b) Hanya satu atau dua kuku yang kelihatan di masing-masing flipper.

c) Seekor penyu berenang dengan kaki depannya yang mengepak seperti sayap.

4) Kaki belakang (rear flipper) berfungsi sebagai kemudi, menstabilkan dan mengarahkan penyu saat berenang. Sirip belakang pada penyu sangat handal dalam menggali sarang di pasir.

Kepala

  1. Seekor penyu tidak dapat menarik kepalanya ke dalam cangkangnya seperti halnya kura-kura darat.
  2. Penyu memiliki kelopak mata atas yang besar yang memberikan perlindungan bagi mata mereka.
  3. Penyu tidak memiliki lubang telinga luar.
  4. Seperti kura-kura lain, penyu tidak memiliki gigi. Bentuk rahang bervariasi di antara spesies. Setiap spesies memiliki bentuk rahang diadaptasi untuk jenis makanannya.

Cangkang

1) Cangkang bertulang besar memberikan perlindungan dari predator.

2) Dalam semua spesies kecuali penyu belimbing, cangkang ditutupi dengan lapisan pelat bertanduk yang disebut sisik:

a. Sisik kuat tetapi fleksibel, tidak rapuh.

b. Spesies penyu dapat dikenali dari jumlah dan pola sisik.

c. Penyu belimbing memiliki kulit dan lemak yang tebal, yang merupakan insulator yang sangat baik yang memungkinkan spesies ini menjelajah ke perairan yang lebih dingin.

3) Sisi punggung (atas) dari cangkang disebut karapaks.

a. Bergantung pada spesies, karapas dewasa ini memiliki bentuk mulai dari oval hingga berbentuk hati.

b. Semua spesies kecuali penyu belimbing, cangkang bertulang terdiri dari tulang rusuk yang melebar dan menyatu tulang punggung melekat pada karapas.

c. Karapas Penyu Belimbing sebagian besar terdiri dari tulang rawan yang menyatu ke logitudinal punggung.

4. Sisi ventral (perut) dari sisik disebut plastron.

Populasi Penyu

Jumlah total populasi seringkali tidak diketahui karena penyu muda dan penyu jantan tidak mencapai daratan dan sulit untuk dihitung.

  1. Data populasi biasanya didasarkan pada jumlah betina dewasa yang datang ke darat untuk bersarang. Meski begitu, jumlahnya ambigu – beberapa betina bersarang setiap dua hingga tiga tahun, beberapa mungkin bersarang lebih dari sekali di pantai yang sama dalam satu musim, dan beberapa betina akan mengunjungi lebih dari satu pantai bersarang dalam satu musim.
  2. Para peneliti lebih bergantung pada perubahan jumlah betina yang bersarang dari tahun ke tahun untuk menentukan tren populasi yang bertambah atau berkurang jumlahnya. Karena fluktuasi jangka pendek dari tahun ke tahun terkait jumlah betina yang bersarang itu cukup menyesatkan, bahkansurvei satu dekade atau kurang mungkin tidak cukup untuk menentukan tren populasi.

Jadi menurut pencatatan, ini yang ditemukan:

1 ) Penyu Kempi adalah kura-kura laut yang paling terancam punah. Pada tahun 1947, diperkirakan ada sekurangnya 92.000 sarang. Jumlahnya telah menurun secara dramatis sejak saat itu. Survei yang dilakukan antara 1978 dan 1988 menunjukkan hanya ada rata-rata sekitar 800 sarang per tahun. Sejak 1978, tren menunjukkan jumlah sarang telah menurun di sekitar 14 sarang per tahun. Jumlah total betina bersarang mungkin serendah 350 di pantai-pantai di mana puluhan ribu ridley Kemp dulu bersarang.

2) Populasi penyu penyu hijau dan hitam belum disurvei cukup lama untuk menentukan tren. Namun, pengamatan kualitatif kunjungan penyu betina selama beberapa tahun menunjukkan penurunan besar

Penyu Hitam Timur Pasifik

3) Daerah utama bersarang Penyu Tempayan terletak di tenggara AS. Tren populasi penyu tempayan menunjukkan penurunan di area bersarang di Georgia dan Carolina Selatan, tetapi tidak ada penurunan atau kemungkinan peningkatan di wilayah Atlantik Florida selatan. Diperlukan penelitian bertahun-tahun terkait perilaku bersarang data dan studi biologi populasi untuk menilai tren di Florida.

4) Populasi Penyu Lekang dapat mencapai beberapa ratus ribu betina dewasa . Penyu lekang adalah penyu paling berlimpah di dunia. Pada tahun 1991, diperkirakan 610.000 penyu bersarang dalam satu minggu di pantai di India.

5) Sangat sedikit data yang tersedia tentang populasi penyu sisik. Perkiraan ukuran populasi betina yang bersarang sulit dengan pengamatan dari udara: jejak di pasir tidak bertahan lama dan sulit dilihat, dan sarang sering dikaburkan oleh vegetasi pantai.

6) Jumlah populasi penyu pipih saait ini tidak diketahui; namun, karena distribusinya yang terbatas, pipih adalah yang paling rentan dari semua penyu terhadap perubahan habitat atau eksploitasi berlebihan.

7) Mungkin ada kurang dari 115.000 penyu belimbing dewasa di seluruh dunia. Ada terlalu sedikit catatan untuk memprediksi tren; namun, jumlahnya tampaknya tidak menurun.

Habitat Dan Distribusi Penyu

Distribusi.

Penyu ditemukan di laut yang hangat dan sedang di seluruh dunia.

Habitat

Sebagian besar spesies penyu dewasa ditemukan di perairan dangkal, pantai, teluk, laguna, dan muara. Beberapa juga menjelajah ke laut lepas. Penyu remaja dari beberapa spesies dapat ditemukan di teluk dan muara, serta di laut.

Migrasi.

Kebiasaan migrasi berbeda tidak hanya di antara spesies tetapi juga di antara populasi yang berbeda dari spesies yang sama. Beberapa populasi penyu bersarang dan mencari makan di area umum yang sama; yang lainnya bermigrasi dari jarak yang sangat jauh.

Peta satelit migrasi penyu

  1. Populasi penyu hijau bermigrasi terutama di sepanjang pantai dari tempat bersarang ke tempat makan. Namun, beberapa populasi akan melakukan perjalanan 2.094 km (1.300 mil) melintasi Samudra Atlantik dari tempat bersarang Pulau Ascension ke ruaya pakan di Brasil.
  2. Penyu hitam bermigrasi di sepanjang pantai dari daerah berkembang biak ke tempat mencari makan antara ekstrem utara dan selatan dari jangkauan distribusi mereka.
  3. Penyu Tempayan meninggalkan daerah ruaya pakan untuk melakukan migrasi dan berkembang biak dengan jangkauan jelajah berkisar antara beberapa kilometer hingga ribuan kilometer
  4. Penyu Kempi mengikuti dua rute utama di Teluk Meksiko: satu ke utara ke daerah Mississippi, yang lain ke selatan ke Campeche Bank, dekat Semenanjung Yucatan.
  5. Populasi Penyu Lekang telah diamati dalam kelompok besar yang bepergian antara tempat makan dan tempat bersarang di Pasifik Timur dan Samudra Hindia.
  6. Studi migrasi penyu sisik terbatas. Bukti menunjukkan bahwa beberapa populasi penyu sisik menunjukkan siklus migrasi bersarang. Peneliti lain telah mendokumentasikan populasi penyu sisik tidak bermigrasi atau penyu sisik lain bermigrasi jarak pendek.
  7. Penyu Pipih pindah dari tempat bersarang mereka di pantai utara Australia dan pulau-pulau ke tempat mencari makan di perairan dangkal Australia timur laut. Jarak yang ditempuh berkisar dari 215 hingga 1.300 km (134 – 807 mil).
  8. Penyu belimbing memiliki migrasi terpanjang dari semua penyu. Mereka telah ditemukan pernah bermigrasi lebih dari 4.831 km (3.000 mil) dari pantai bersarang mereka.

Kebiasaan migrasi berbeda di antara spesies penyu. Migrasi dapat berkisar dari beberapa hingga ribuan kilometer. Metode yang paling umum digunakan untuk melacak penyu laut bebas adalah penandaan sirip (metal tag, PIT tag). Meskipun metode ini menghasilkan informasi tentang tujuan migrasi, metode ini tidak mengungkapkan rute perjalanan. Baru-baru ini pelacakan radio, sonik, dan satelit telah berhasil memantau pergerakan penyu. Hubbs-Sea World Research Institute telah mengembangkan harness pemancar radio untuk penyu belimbing. Desainnya memungkinkan pemasangan pemancar yang aman tanpa memengaruhi mobilitas penyu. Harness dirancang untuk terputus dalam beberapa bulan

Alat telemetry yang dipasang pada penyu belimbing

Headstarting Pada Tukik

Headstarting adalah sebuah upaya pembesaran tukik di sebuah kolam buatan (captivity) hingga mencapai ukuran tertentu (yang secara teori) akan melindungi tukik dari (perkiraan)bahaya tingginya pemangsaan yang terjadi pada awal-awal kehidupan tukik. Idenya adalah bahwa tukik-tukik ini banyak bisa selamat setelah mereka dilepaskan ke laut.

Pembesaran tukik di Tanjung Benoa Bali

Headstarting selalu menjadi bahan kontroversi diantara para ahli penyu dunia (catatan: perdebatan itu ditampakan oleh Dodd, Ehrenfeld, Klima and McVey,  and Reichad). Namun walaupun begitu di negara dimana penyu berada, orang-orang di sana kerap sekali melakukan kegiatan headstarting. Donnelly (1994) banyak sekali mengulas kasus-kasus semacam ini dan menyajikan evaluasi detil mengenai mengapa tiga program pembesaran tukik (headstarting) yang paling penting dengan biaya terbesar di dunia dengan rentang waktu terlama harus diakhiri. Berikut adalah tiga program tersebut:
  • Program headstarting penyu hijau di Florida (1959 – 1989)
  • Program headstarting penyu kempi di Amerika Serikat (1978 – 1993)
  • Program headstarting penyu sisik di Palau (1982 – 1991)
Kritik selalu ditujukan bahwa headstarting tidak pernah terbukti sebagai metoda menejemen (teknik konservasi), malah kemungkinan berbahaya untuk penyu. Para biolog menghawatirkan kekurangan pakan dan perubahan perilaku alami yang terjadi di kolam-kolam pembesaran tukik/ captivity (termasuk latihan fisik yang tidak sesuai bagi tukik, kurangnya atau tidak tepatnya sesor stimulus, dan tidak tersedianya makanan alami) yang mungkin mempengaruhi keberhasilan tukik yang sudah dibesarkan untuk beradaptasi dilautan terbuka dan selamat. Ada masalah lain yaitu bahwa tukik harus juga melalui proses imprinting yang nantinya berguna untuk memandu penyu menemukan jalan pulang dalam proses yang disebut dengan breeding migrations (Mrosovsky 1983; Mortimer 1988 ; National Res arch Council 1990 ; Woody 1990, 1991; ,Taubes 1 “92; Donnelly 1994; Eckert et al . 1994). Belum lagi dengan masalah penyakit, sebanyak 27 jenis penyakit (yang kebanyakan serius) dapat ditemukan di tukik yang dibesarkan (Leong et al . 1989). Di dalam situasi yang berhimpit-himpitan, tukik akan saling menggigit/ saling memangsa yang akan menyebabkan luka yang biasanya akan berlanjut kepada infeksi dan hilangnya bagian badan (Mortimer 1998). Kekhawatiran semakin menjadi karena tukik yang mengalami pembesaran dapat menularkan penyakit kepada tukik liar di alam segera setelah tukik-tukik tersebut dilepaskan dari penampungan (Woody 1981; Jacobson 993; Donnelly 1994)

Tukik mati di kolam pembesaran tukik. Foto : PROFAUNA

Program headstarting yang mendapatkan dana paling banyak, terutama yang berada di Galveston Lab of NMFS dan Cayman Turtle Farm (keduanya didukung dengan dana multi juta dolar Amerika), telah menghasilkan informasi penting tentang upaya peternakan penyu, perilaku dan psikologinya (Caillouet and Landry 1989 ; Caillouet 1993). Beberapa mengatakan bahwa program headstarting telah meningkatkan perasaan nyaman (karena telah berkontribusi terhadap pelestarian penyu) dan meningkatkan perhatian publik terhadap penyu (Allen 1990, 1992). Orang lain berpendapat kalau hanya untuk memenuhi tujuan menghasilkan informasi penting (tentang perilaku penyu dan psikologinya), maka seharusnya tidak perlu melibatkan sedemikian banyak tukik, dan perasaan nyaman akan headstarting (oleh manusia) telah menyedot dana sedemikian banyak yang seharusnya bisa dipergunakan untuk program-program konservasi penyu yang lain yang sebenarnya lebih efektif namun tidak terlalu populer(Mortimer 1988; Woody 1990, 1991; Donnelly 1994). Pada akhirnya, keberhasilan teknik headstarting sebagai teknik konservasi (alat menejemen) akan terbukti ketika proporsi/ jumlah penyu betina yang berhasil bertelur hasil headstarting lebih banyak daripada penyu yang bukan hasil headstarting (alami) (Mrosovsky 1983; Mortimer 1988 ; National Research Council 1990; Eckert et al. 1994). Kemudian yang paling penting adalah bahwa penyu yang diheadstarting seharusnya bertelur di pantai yang sama sehingga dapat berguna untuk mempertahankan kelestarian jenis pada populasi di pantai tersebut (Bowen et al . 1994). Headstarting selalu dianggap sebagai sebuah kegiatan percobaan/ eksperimen, namun hingga sekarang headstarting masih saja dilakukan tanpa struktur yang jelas dan tidak memiliki kontrol yang baik. Untuk menanggulangi ini, berdasarkan anjuran dari Wibbels et al. (1989) and Eckert et al.(1994) penghentian program headstart terhadap penyu kempi dilanjutkan dengan penandaan terhadap tukik liar (sebagai kontrol) dan monitoring terhadap penyu kempi yang dibesarkan yang sudah dilepas liarkan ke alam (Byles 1993 ; Williams 1993 ; Donnelly 1994). Studi percontohan berdasarkan analisa nilai pembiakan (Crouse et al. 1987) menunjukan bahwa headstarting sepertinya tidak akan bisa mencapai tujuan mendasarnya yaitu; meningkatkan populasi dengan meminimalisir kematian tukik dan penyu remaja di alam (National Research Council 1990). Hepel dan Crowder (1994) mengevaluasi populasi penyu Kempi berdasarkan usia dan fase kehidupan, kemudian menyimpulkan bahwa headstarting tidak bisa dianggap sebagai metoda konservasi, karena jumlah tukik yang dibesarkan tidak akan cukup untuk menggantikan hilangnya penyu dewasa yang produktif. Kegiatan headstarting hanya berfokus kepada mengurangi kematian alami pada tukik, tanpa memperhatikan penyebab utama berkurangnya spesies penyu ini antara lain;  eksploitasi penyu dan telurnya, peralatan nelayan yang tidak ramah penyu dan perusakan habitat. Headstarting bukanlah sebuah pilihan untuk program konservasi dengan dana terbatas.
  • Allen, C. H.Guest editorial : Give headstarting a chance . Marine Turtle Newsletter 51 :12-16 It’s time to give Kemp’s ridley head-starting a fair and scientific evaluation! Marine Turtle Newsletter 56:21-24 .
  • Bowen, B. W.; T. A. Conant; and R. Hopkins-Murphy, Where are they now? Th Kemp’s ridley headstart project. Conservation Biol gy 8:853-856.
  • Byles, R. 1993 . Head-start experiment n4 longer rearing Kemp’s ridleys. Marine Turtle Newsletter 63:1.3.
  • Caillouet, C. W. 1993 . Publications and Reports On Sea Turtle Research by the NMFS Galveston Laboratory 1979-1992 .NOAA Technical Memorandum NMFS-SEFC-328.
  • Caillouet, C. W., and A . M. Landry, Jr., editors Proceedings of the First International Symposium on Kemp’s Ridley Sea Turle Biology, Conservation and Management. Texa s A&M University, Sea Grant College Program, Ti ~Iv1U-SG-89-105.
  • Crouse, D . T.; L. B. Crowder; and H. Caswell 1987 . A stage-based population model for loggerhead sea turtles and implications ffr conservation. Ecology

WC Biogas

Pulau Belambangan adalah salah satu habitat peneluran bagi penyu hijau dan penyu sisik di Kepulauan Kabupaten Berau. Secara umum ini masih tertutupi hutan sepenuhnya dengan ketinggian tanah kurang lebih 3 meter diatas permukaan air laut.

Pulau Belambangan adalah salah satu pulau-pulau terpencil di Perairan Berau. Keadaan alamnya masih alami, berhutan dan tidak ditinggali masyarakat.

Letaknya yang sangat jauh dari kota (170 KM dari Ibu Kota Berau) membuat penyelenggaraan program perlindungan penyu di sana menjadi sangat mahal dan sulit. Namun YPI percaya bahwa kealamian pulau ini harus dipertahankan sehingga kegiatan YPI di sana tidak terlalu “mengganggu” pulau itu dengan cara:

  1. Tidak memakai pasir di Pulau Belambangan untuk mendirikan bangunan
  2. Tidak memotong pohon yang ada di sana untuk memberikan ruang bagi bangunan pos monitoring YPI
  3. Mengangkut keluar Pulau Belambangan semua limbah yang tidak dapat diolah, misalkan sampah logam atau kaca
  4. Menggunakan toilet biogas sehingga kotoran tidak mencemari air tanah

Contoh WC portable di salah satu camp perlindungan penyu di Cape Verde – Afrika milik Fundacao Tartaruga

Kotoran dari WC akan ditampung dalam reaktor biogas portable dengan bahan dari plastik-karet fleksibel. Reaktor ini sangat portable, sehingga apabila alat ini tidak digunakan maka bisa digulung sedemikian rupa. Limbah dari reaktor ini ada dua yaitu air hitam dan lumpur. Keduanya  sangat ramah lingkungan dan dapat dialirkan ke tanaman sebagai pupuk. Konsep biogas portable semacam ini meniru sistem higienis pembuangan kotoran yang diterapkan dalam camp-camp perlidungan penyu milik Fundacao Tartaruga di Cape Verde, Afrika.