Maniamölö Festival 2025 yang diselenggarakan di Desa Hilisimaetanö, Kabupaten Nias Selatan, menjadi ruang perayaan budaya sekaligus ajang kolaborasi komunitas. Festival tahunan ini merupakan inisiatif pemerintah desa bersama Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Nias Selatan dalam upaya memperkuat identitas budaya masyarakat Nias.
Tahun ini, Yayasan Penyu Indonesia (YPI) turut meramaikan festival melalui pembukaan booth edukatif yang berfokus pada pelestarian lingkungan, khususnya perlindungan penyu. Kegiatan difokuskan dengan pendekatan interaktif seperti permainan, lagu, dan aktivitas kreatif agar lebih mudah dipahami dan menyenangkan bagi anak-anak.


Setiap sore, anak-anak berkumpul di area booth untuk mengikuti berbagai kegiatan edukasi. Kimi, maskot penyu sisik YPI, menjadi tokoh yang paling ditunggu-tunggu dengan setia.
Salah satu kegiatan yang paling diminati adalah melukis totebag. Selain sebagai media ekspresi seni, aktivitas ini juga membawa pesan penting tentang pengurangan penggunaan plastik. Totebag hasil lukis dapat dibawa pulang oleh peserta dan diharapkan menjadi alternatif yang lebih ramah lingkungan dibanding kantong plastik sekali pakai.
Pesan ini berkaitan langsung dengan kondisi di laut, di mana penyu sering kali memakan sampah plastik yang disangka ubur-ubur—makanan utamanya. Melalui edukasi ini, anak-anak diajak memahami bahwa mengurangi plastik berarti turut menjaga kelangsungan hidup penyu.

Pada acara puncak edukasi penyu, Yayasan Penyu Indonesia menampilkan dongeng penyu di Balai Desa Maniamölö yang diikuti oleh lebih dari 100 anak. Melalui alur cerita dongeng, anak-anak dikenalkan pada siklus hidup penyu, ancaman yang dihadapi, serta cara manusia dapat berkontribusi dalam perlindungannya. Setiap peserta juga mengisi jurnal aktivitas sebagai catatan pembelajaran selama mengikuti kegiatan.
Selama pelaksanaan kegiatan, para relawan dari Yayasan Penyu Indonesia berperan penting sebagai fasilitator. Mereka bukan hanya mendampingi, tetapi juga membangun hubungan yang hangat dengan anak-anak, sehingga suasana belajar terasa lebih santai dan menyenangkan. Ucapan terima kasih dan apresiasi patut disampaikan kepada Desti Elmeidart Fau, Marselina Sianturi, Amos Duha, dan Michael Telaumbanua yang telah memberikan waktu, tenaga, dan semangatnya dalam mendampingi semua kegiatan.
Partisipasi Yayasan Penyu Indonesia di Maniamölö Festival 2025 bukan sekadar menyampaikan pesan konservasi penyu, tapi juga menunjukkan bahwa edukasi lingkungan bisa dimulai dari ruang komunitas, dan dilakukan dengan cara yang sederhana. Ketika anak-anak belajar sambil bermain, dan ketika nilai pelestarian alam tumbuh dari interaksi sehari-hari, maka benih perubahan dapat mulai ditanam sejak dini.
Festival ini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dan lingkungan dapat berjalan beriringan. Keduanya bisa saling mendukung dan dikuatkan melalui partisipasi aktif masyarakat dan keterlibatan komunitas. Di tengah suasana meriah Maniamölö Fest, cerita tentang penyu dan upaya perlindungannya telah meninggalkan kesan mendalam bagi banyak anak, mungkin juga menjadi awal bagi tumbuhnya generasi peduli lingkungan dari Nias Selatan.