Pulau Bilang-bilangan dan Pulau Mataha merupakan dua pulau kecil tidak berpenghuni yang kawasan pantainya menjadi salah satu habitat peneluran Penyu Hijau dan Penyu Sisik terbesar di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
Pulau Bilang-bilangan terletak di Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Berau, dengan luas sekitar 131 hektare. Pulau ini termasuk dalam zona inti Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K-KDPS), sebagaimana ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 87/KEPMEN-KP/2016 tentang Penetapan Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.
Sebagai kawasan zona inti, Pulau Bilang-bilangan berfungsi untuk melindungi keanekaragaman hayati laut dan ekosistem pesisir di sekitarnya. Oleh karena itu, kegiatan seperti penangkapan ikan, budidaya, dan pariwisata tidak diperbolehkan di area ini. Kawasan ini hanya dapat dimanfaatkan untuk kegiatan konservasi, penelitian, dan pendidikan yang mendukung upaya pelestarian alam.
Sementara itu, Pulau Mataha yang terletak berdekatan dengan Pulau Bilang-bilangan memiliki luas sekitar 389 hektare. Pulau Mataha juga termasuk dalam kawasan zona inti KKP3K-KDPS dengan ketentuan pengelolaan yang sama seperti Pulau Bilang-bilangan.
Meskipun Pulau Bilang-bilangan dan Pulau Mataha telah ditetapkan sebagai kawasan zona inti, masih terdapat berbagai gangguan yang dapat mengancam kehidupan penyu. Gangguan tersebut berasal dari aktivitas manusia (anthropogenic disturbance) maupun faktor alam (natural disturbance).
Gangguan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (anthropogenic disturbance) antara lain pencurian telur penyu, perburuan penyu, pengeboman ikan, pemotasan ikan, pencemaran sampah plastik, tumpahan minyak, dan berbagai aktivitas merusak lainnya.
Selain gangguan dari manusia, faktor alam (natural disturbance) juga berpotensi memengaruhi kelestarian penyu. Beberapa di antaranya adalah keberadaan tikus yang memangsa tukik. Erosi pantai juga dapat merusak sarang sehingga telur penyu gagal berkembang. Selain itu, batang kayu berukuran besar yang hanyut ke pulau tempat penyu bertelur berpotensi mengganggu aktivitas peneluran penyu.
Sampah yang hanyut ke pantai peneluran penyu menjadi ancaman serius bagi penyu. Pulau Bilang-bilangan dan Pulau Mataha sering menerima sampah plastik serta batang kayu yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia, bahkan dari negara lain seperti Malaysia hingga Filipina. Hal ini cukup memprihatinkan mengingat posisi kedua pulau tersebut berada puluhan mil di tengah laut.
Sampah plastik yang terombang-ambing di laut sering kali disangka penyu sebagai ubur-ubur, yang merupakan salah satu sumber makanannya. Sampah menjadi ancaman serius bagi kehidupan makhluk hidup di bumi, khususnya penyu. Saat ini, enam dari tujuh spesies penyu di dunia dapat ditemukan di Indonesia, yaitu Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea), Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), Penyu Tempayan (Caretta caretta), dan Penyu Pipih (Natator depressus). Padahal, penyu merupakan satwa yang hampir punah dan harus dijaga bersama-sama.
Batang kayu berukuran besar yang melintang di pantai peneluran menyebabkan banyak penyu memutar balik kembali ke laut dan tidak jadi bertelur, atau yang dikenal dengan istilah false crawl (FC). Hal ini terjadi karena penyu sangat sensitif terhadap benda yang berada di depannya. Penyu kemudian akan kembali ke laut dan mencari lokasi lain yang dianggap lebih aman untuk bertelur.
Salah satu upaya yang dilakukan oleh ranger YPI di Pulau Bilang-bilangan dan Pulau Mataha untuk mengurangi ancaman terhadap penyu adalah dengan melakukan kegiatan pembersihan sampah secara rutin di sepanjang pantai peneluran.
Setiap sore hari, ranger membersihkan batang kayu yang hanyut ke pantai. Total panjang garis pantai yang rutin dibersihkan mencapai 2 km di Pulau Bilang-bilangan dan 2,2 km di Pulau Mataha. Batang kayu berukuran besar akan dipotong terlebih dahulu agar lebih mudah diangkat dan dikumpulkan di satu lokasi sehingga tidak mengganggu proses peneluran penyu.
Setelah sampah kayu terkumpul di satu titik, ranger YPI akan melakukan pembakaran kayu pada pagi hari. Keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah di Pulau Mataha dan Pulau Bilang-bilangan membuat pembakaran menjadi satu-satunya opsi yang tersedia saat ini. Ke depannya, diharapkan dapat ditemukan solusi alternatif dalam penanggulangan sampah di kedua pulau tersebut.
Pembakaran kayu dilakukan pada pagi hari dengan tujuan agar api dapat dikendalikan dan dipadamkan sepenuhnya pada sore hari. Ranger memastikan seluruh api dan bara benar-benar padam agar tidak membahayakan penyu yang akan naik bertelur pada malam hari maupun tukik yang baru menetas dan bergerak menuju laut.
Penyu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, seperti membantu menjaga keberlangsungan padang lamun yang merupakan habitat penting bagi berbagai spesies laut, mengontrol komposisi spons di terumbu karang, serta mengendalikan populasi ubur-ubur yang dapat menyebabkan kematian ikan-ikan juvenil.
Sudah selayaknya kita sebagai sesama makhluk hidup saling menjaga dan berkontribusi untuk membantu alam agar tetap lestari.

Proses bersih sampah kayu yang hanyut di Pulau Bilang-Bilangan.