Pada bulan Maret 2026, Yayasan Penyu Indonesia (YPI) kembali melakukan kegiatan edukasi di Kecamatan Biduk-Biduk, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Bertempat di MTs 001 Biduk-Biduk, kegiatan ini menjangkau 111 siswa dari empat kelas yang mengikuti sesi pembelajaran secara bergantian. Pendekatan ini dipilih agar setiap siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih fokus, interaktif, dan berkesan.
Kegiatan edukasi tidak hanya disampaikan melalui pemaparan materi melalui Power Point, tetapi juga dikemas secara menarik melalui permainan dan kuis berhadiah. Suasana kelas yang awalnya biasa berubah menjadi penuh antusiasme, dimana siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap kehidupan penyu. Untuk mengukur efektivitas kegiatan, setiap kelas mengikuti pretest sebelum materi disampaikan dan post test setelah kegiatan berakhir. Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan, membuktikan bahwa pendekatan edukasi yang interaktif mampu menanamkan kesadaran yang lebih mendalam.
Materi yang disampaikan menekankan pentingnya perlindungan penyu sebagai satwa dilindungi, sekaligus mengajak siswa memahami ancaman yang dihadapi penyu akibat aktivitas manusia. Salah satu fokus utama adalah larangan mengonsumsi daging dan telur penyu serta penggunaan produk turunannya seperti cinderamata dari sisik penyu. Pesan ini disampaikan bukan sekadar sebagai aturan, tetapi sebagai panggilan moral untuk melindungi penyu dan habitatnya.

Momen paling menyentuh dalam kegiatan ini terjadi ketika seorang siswi dengan penuh ketulusan menyerahkan cincin yang ia kenakan, yang ternyata terbuat dari sisik penyu. Setelah memahami bahwa benda tersebut berasal dari satwa yang dilindungi dan tidak boleh diperdagangkan, ia dengan sukarela melepaskannya. Tindakan sederhana ini menjadi simbol perubahan yang nyata, dari ketidaktahuan menuju kepedulian. Tim Yayasan Penyu Indonesia kemudian menukar cincin tersebut dengan gelang yang terbuat dari batok kelapa yang menjadi sebuah simbol baru yang lebih ramah lingkungan dan tidak merusak alam. Pertukaran ini bukan sekadar penggantian benda, tetapi juga representasi nilai bahwa keindahan sejati tidak harus mengorbankan kehidupan.
Selain kegiatan di dalam kelas, Yayasan Penyu Indonesia juga memperluas dampak edukasi dengan mendonasikan 150 buku edukasi penyu kepada 11 sekolah dan satu perpustakaan di Kampung Biduk-Biduk. Buku-buku ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan berkelanjutan yang dapat terus menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melindungi penyu serta habitatnya.
Melalui kegiatan ini, Yayasan Penyu Indonesia tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menanamkan nilai, membangun empati, dan mendorong perubahan perilaku. Edukasi menjadi jembatan antara pengetahuan dan tindakan nyata. Dari ruang kelas sederhana di Biduk-Biduk, harapan besar tumbuh bahwa generasi muda akan menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian penyu, memastikan bahwa satwa dilindungi ini akan tetap hidup dan berenang bebas di lautan untuk generasi yang akan datang.