Di tengah pesatnya perkembangan zaman, tekanan terhadap ekosistem pesisir di Indonesia terus meningkat. Perlindungan penyu menjadi salah satu agenda konservasi yang semakin mendesak. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia, Indonesia merupakan habitat peneluran yang sangat penting bagi empat dari tujuh spesies penyu dunia. Namun, perburuan, degradasi habitat, pencemaran, serta perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan satwa purba ini.
Yayasan Penyu Indonesia (YPI) berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah nyata dalam melindungi penyu dan habitatnya. Pada penghujung tahun 2025, kami melakukan kilas balik untuk mengevaluasi sekaligus merekap berbagai upaya yang telah dilaksanakan selama satu tahun terakhir. Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dan berbagi asam manis perjuangan konservasi bersama kami.
Konservasi Penyu di Habitat Alami
Upaya konservasi penyu yang dilakukan oleh YPI berfokus pada perlindungan penyu di habitat alaminya. Kegiatan utama meliputi patroli pantai rutin, beach clean-up, pendataan, pengelolaan hatchery, serta pelepasliaran tukik sesuai dengan siklus hidup alaminya. Seluruh kegiatan ini dilaksanakan di sembilan pantai peneluran yang tersebar di Sumatra dan Kalimantan.
Sebanyak 80 orang masyarakat lokal dilatih dan diberdayakan sebagai ranger penyu. Mereka menjadi garda terdepan dalam kegiatan perlindungan dan pendataan penyu di lapangan. Pelibatan masyarakat merupakan aspek yang sangat penting karena membuka perspektif terhadap alternatif ekonomi berkelanjutan sekaligus memperkuat peran dan nilai-nilai konservasi di tingkat lokal.
Bersama para ranger, YPI turut melindungi sebanyak 10.555 sarang penyu. Selain menjaga sarang alami, relokasi sarang ke hatchery atau tempat penetasan semi-alami dilakukan apabila sarang berada di lokasi yang terpapar ancaman gelombang tinggi, abrasi, erosi, maupun perburuan ilegal. Hatchery diawasi secara berkala, terutama pada sarang yang diperkirakan akan menetas, yakni sarang dengan usia telur sekitar 65–70 hari. Tukik-tukik sehat yang menetas kemudian segera dilepasliarkan ke laut sesuai dengan kebutuhan biologisnya.
Pada tahun ini di Simeulue, Aceh, Yayasan Penyu Indonesia juga melakukan pemasangan transmitter satelit pada dua ekor penyu belimbing untuk mempelajari jalur migrasi, feeding ground, dan habitat pentingnya. Kedua penyu tersebut diberi nama oleh masyarakat Kecamatan Salang, yaitu Putri Salang Simodede dan Putri Daubatu. Kegiatan pemasangan transmitter dipimpin oleh Meriussoni Zai (Direktur Program Yayasan Penyu Indonesia) dan Adhith Swaminathan (Penasihat Keilmuan Yayasan Penyu Indonesia). Selama proses migrasi, kisah perjalanan kedua penyu ini menjadi salah satu kabar yang paling dinantikan oleh pengikut Instagram @yayasanpenyu.
Edukasi untuk Peningkatan Penyadartahuan Masyarakat
Perlindungan penyu tidak dapat dilakukan secara sendiri. Semakin banyak masyarakat yang sadar dan peduli, semakin kuat pula upaya konservasi yang dapat diwujudkan. Oleh karena itu, YPI menjalankan berbagai program edukasi untuk meningkatkan penyadartahuan anak-anak, pemuda, dan orang dewasa dengan metode yang disesuaikan dengan masing-masing kelompok usia.
Metode yang digunakan meliputi dongeng, simulasi, permainan, serta petualangan edukatif bersama anak-anak. Untuk pemuda, dikembangkan permainan kartu dan papan yang lebih kompleks. Sementara itu, masyarakat umum diajak terlibat aktif melalui kegiatan sosialisasi dan diskusi terbuka. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 31 kegiatan edukasi telah dilaksanakan dengan melibatkan 1.354 peserta dari berbagai kelompok usia.
Yayasan Penyu Indonesia juga menyajikan berbagai konten edukatif seputar penyu melalui media digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Kehadiran YPI di tiga platform media sosial telah menghimpun lebih dari 19,8 ribu Sahabat Penyu. Mereka bukan sekadar penonton pasif; konten-konten YPI menghasilkan lebih dari 90 ribu interaksi berupa like, komentar, repost, dan share. Bahkan, puluhan audiens daring turut terlibat langsung sebagai relawan dalam kegiatan edukasi dan acara publik bersama YPI.
Literasi lintas generasi terkait biologi penyu, siklus hidup, ancaman, serta upaya perlindungannya menjadi kunci penting dalam mewujudkan keberlanjutan konservasi. Keterlibatan dalam berbagai bentuk, baik waktu, tenaga, maupun dukungan finansial, memberikan energi dan mendorong dampak yang nyata. Melalui kesempatan donasi yang dibuka di situs web dan acara publik, YPI berhasil menghimpun dana sebesar Rp27.295.000 dari Sahabat Penyu.
Peningkatan Kapasitas Yayasan Penyu Indonesia Didukung oleh Darwin Initiative
Para ranger dan staf di balik program-program Yayasan Penyu Indonesia dibekali dengan peningkatan kapasitas yang didukung oleh Darwin Initiative. Pada tahun 2025, diselenggarakan Training of Trainers (ToT) ke-2 dan ke-3, di mana para peserta mendapatkan pembekalan teori serta pengalaman teknis mendalam dari Direktur Program dan Penasihat Keilmuan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi pelatih, sehingga pengetahuan yang diperoleh dapat dibagikan lebih luas dan rantai pembelajaran terus berlanjut.
Melalui kegiatan team building dan berbagai kursus yang berkaitan dengan konservasi, staf YPI juga mendapatkan penguatan kapasitas dalam aspek kepemimpinan, logical framework, penyusunan rencana kerja, komunikasi, advokasi, serta pendekatan GESI (Gender Equality and Social Inclusion).
Mari Perkuat Kolaborasi!
Perjalanan konservasi penyu merupakan proses panjang yang penuh tantangan. Tekanan terhadap habitat pesisir, keterbatasan sumber daya, serta dampak perubahan iklim global adalah persoalan yang perlu dihadapi bersama. Namun, kolaborasi, pengetahuan, dan kepedulian yang terus tumbuh di tengah masyarakat menjadi fondasi kuat untuk menjaga harapan tetap menyala.
Mari kita perkuat kolaborasi dan menjaga komitmen bersama untuk terus melangkah dan memperjuangkan keberlangsungan penyu di Indonesia, untuk hari ini, esok, dan generasi yang akan datang.