Pulau Mataha dikenal sebagai salah satu pulau yang memiliki nilai ekologis penting di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, terutama sebagai habitat peneluran Penyu Hijau (Chelonia mydas) dan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Sejak 2024, Yayasan Penyu Indonesia (YPI) bersama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur telah bekerja sama untuk melakukan upaya mitigasi terhadap maraknya eksploitasi penyu di Kabupaten Berau. Berbagai upaya konsisten telah dilakukan, antara lain melalui kegiatan perlindungan penyu dan habitatnya di Pulau Mataha.

Yayasan Penyu Indonesia saat ini menempatkan empat ranger di Pulau Mataha yang bertugas untuk melakukan patroli rutin pantai peneluran, pendataan penyu dan tukik, pembersihan pantai peneluran dan merelokasi sarang penyu yang terancam. Terdapat beberapa ancaman bagi keberlangsungan aktifitas perlindungan penyu dan habitatnya di Pulau Mataha, salah satunya yang sangat berdampak ialah abrasi pantai.

Dalam beberapa tahun terakhir, fenomena abrasi pantai semakin mengancam keberadaan area pantai peneluran. Abrasi tidak hanya mengikis garis pantai, tetapi juga mengganggu siklus hidup penyu yang sangat bergantung pada kondisi pasir yang stabil dan aman. Pasir yang terus mengikis pantai peneluran membuat penyu kesulitan untuk naik ke pantai dikarenakan kontur pantai yang sebelumnya landai berubah menjadi tembok vertikal. Hal tersebut membuat penyu berputar balik ke laut dan gagal bertelur atau False Crawl (FC).

Abrasi yang terus terjadi tidak hanya mengancam pantai peneluran penyu, tetapi juga membahayakan keberadaan pos penjagaan para ranger di Pulau Mataha, yang berperan penting dalam melindungi penyu dan habitatnya. Abrasi yang terjadi di Pulau Mataha saat ini bahkan sudah merusak satu bangunan di dekat pos penjagaan, yaitu bangunan Hatchery atau tempat merelokasi sarang yang terancam.

Jika garis pantai terus terkikis, fasilitas pos ini berisiko rusak bahkan hilang, sehingga dapat melemahkan upaya pengawasan dan konservasi di Pulau Mataha. Bangunan pos penjagaan di Pulau Mataha yang menjadi tempat para ranger beristirahat saat ini berada sangat dekat sekitar tiga meter dari air laut. Lokasi yang dulu dianggap aman dari garis pasang tinggi, saat ini sangat terancam terkikis oleh air laut.

Salah satu upaya untuk menyelamatkan bangunan pos penjagaan di Pulau Mataha ialah dengan rencana memindahkan bangunan pos ke lokasi lain yang aman dari abrasi. Langkah ini menjadi bukti nyata betapa konkret dampak perubahan iklim saat ini, serta menunjukkan bahwa kita harus bertindak secara fleksibel dan penuh komitmen untuk menjaga keberlanjutan upaya konservasi dalam jangka panjang.

Abrasi di Pulau Mataha merupakan ancaman nyata yang memerlukan perhatian serius. Tanpa tindakan yang tepat, habitat penting bagi penyu akan terus menyusut dan mengancam keberlangsungan spesies tersebut. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pegiat lingkungan sangat diperlukan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir ini.

 

Foto 1. Kondisi basecamp ranger penyu di Pulau Mataha.

 

Foto 2. Kondisi hatchery di Pulau Mataha.

 

Yayasan Penyu Purpose

Selamatkan Penyu dari Kepunahan

Penyu menghadapi berbagai ancaman, termasuk perburuan liar, pencemaran plastik, dan kerusakan habitat.

Setiap langkah Anda mendukung perlindungan penyu dan buat dampak nyata!

Lakukan Donasi
Donasi anda Mendukung : Pelepasan Tukik ke habitat alami Pelepasan Tukik ke habitat alami Perlindungan dan pemantauan sarang penyu Perlindungan dan pemantauan sarang penyu Penanganan dan pembersihan pantai dari sampah Penanganan dan pembersihan pantai dari sampah
© Turtle Foundation