International Sea Turtle Symposium (ISTS) ke-44 diselenggarakan di Kailua-Kona, Hawaiʻi pada tanggal 28 Februari hingga 6 Maret 2026. Simposium tahunan yang diinisiasi oleh International Sea Turtle Society ini merupakan salah satu forum global tahunan paling penting yang mempertemukan ilmuwan, praktisi konservasi, pembuat kebijakan, serta berbagai organisasi dengan misi perlindungan penyu dari seluruh dunia.

Mengusung tema Kaiāulu, yang berarti “komunitas”, acara ini merefleksikan pentingnya solidaritas di antara para pelaku konservasi penyu. Sejalan dengan semangat tersebut, Yayasan Penyu Indonesia turut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan ISTS tahun ini, yang diwakili oleh Yuliana Fitri Syamsuni selaku Deputy Director. Partisipasi Yuliana didukung oleh pemerintah UK melalui pendanaan “Darwin Initiative” dan International Sea Turtle Society (ISTS).

Workshop dan Pertemuan Regional

Selama tiga hari pertama, rangkaian kegiatan dibuka dengan workshop yang membahas beragam topik, mulai dari biologi, ekologi, dan konservasi penyu, kesehatan serta rehabilitasi, hingga pemanfaatan teknologi, metode penelitian, dan analisis data. Selain itu, workshop juga mencakup pendekatan sosial dan perilaku, kebijakan dan tata kelola, serta pengembangan kapasitas dan jejaring bagi para praktisi konservasi. Workshop ini menjadi ruang pembelajaran dan pertukaran pengetahuan, sekaligus memperkuat kapasitas peserta melalui diskusi mendalam.

Selain workshop, juga diselenggarakan pertemuan regional yang berlangsung terpisah berdasarkan kawasan, seperti Afrika, Asia Timur, Mediterania, Samudra Hindia dan Asia Tenggara, serta Oseania. Forum ini menjadi ruang bagi para peserta untuk mendiskusikan isu, tantangan, dan strategi konservasi yang spesifik di masing-masing wilayah.Dalam kesempatan tersebut, Deputy Director kami memaparkan upaya konservasi penyu di Indonesia beserta berbagai tantangan yang dihadapi. Kami juga menyoroti perkembangan positif, seperti meningkatnya peran masyarakat dalam upaya perlindungan penyu melalui program-program kami di berbagai wilayah. Selain itu, kami memaparkan kerangka kerja sama nasional, yaitu Rencana Aksi Nasional (RAN) untuk Konservasi Penyu 2025–2029, serta berbagai kolaborasi regional melalui IOSEA, ATSEA-2 Project, ASEAN MoU on Sea Turtle Conservation, dan inisiatif East Indian Ocean Leatherbacks Alliance (EIOLA).

 

Mendalami Isu Global Penyu: Rangkaian Sesi Pleno dan Parallel

Sesi pleno (plenary sessions) diselenggarakan sebagai kegiatan utama dari simposium. Terdapat tiga sesi pleno yang diselenggarakan, sesi pertama bertajuk Pacific Island Nations, Shared Seas: Indigenous Perspectives on Sea Turtle and Marine Conservation yang menyoroti peran dan pengetahuan masyarakat adat dalam konservasi laut. Sesi kedua bertajuk Headstarting Revisited: Effectiveness, Ethics, and Evidence yang membahas kembali praktik headstarting dari sisi efektivitas dan etika. Kemudian sesi ketiga bertajuk Surviving to Thriving: Evolving the Ethos of Sea Turtle Conservation yang mengangkat refleksi dan perkembangan pendekatan dalam konservasi penyu ke depan.

Setelah sesi pleno, diselenggarakan sesi parallel (concurrent session) dengan berbagai topik mencakup anatomi, fisiologi, dan kesehatan penyu; biologi penyu di laut (in-water biology); studi sosial, ekonomi, dan budaya; edukasi, penyadartahuan, dan advokasi; biologi populasi dan pemantauan; rehabilitasi dan perawatan veteriner; perikanan dan ancaman terhadap penyu; serta aspek konservasi, manajemen, dan kebijakan. Sesi-sesi ini memberikan ruang bagi para peneliti dan praktisi untuk berbagi hasil studi, pengalaman lapangan, serta inovasi dalam mendukung upaya konservasi penyu di berbagai belahan dunia.

Pameran poster berlangsung selama acara symposium, Yayasan Penyu Indonesia menampilkan poster berjudul “Strengthening Capabilities and Capacities for Sea Turtle Conservation in Indonesia through Organizational Development” untuk mengangkat pendekatan penguatan kapasitas kelembagaan yang dilakukan secara sistematis untuk mendukung efektivitas program konservasi penyu di Indonesia. Inisiatif ini dilaksanakan dengan dukungan Darwin Initiative, dengan fokus pada peningkatan tata kelola organisasi, kompetensi sumber daya manusia, serta penguatan sistem dan jejaring kerja guna memastikan keberlanjutan dan dampak konservasi yang lebih optimal.

 

Interaksi Komunitas di Luar Sesi Ilmiah

Selain rangkaian sesi ilmiah dan diskusi, terdapat berbagai kegiatan sosial, budaya, dan komunitas yang menjadi ruang interaksi dan memperkaya pengalaman peserta. Salah satunya adalah Silent Auction yang diselenggarakan untuk menggalang dana bagi program travel grants, dengan menawarkan berbagai barang bertema penyu yang didonasikan oleh para peserta. Dalam kegiatan ini, Yayasan Penyu Indonesia turut berkontribusi dengan mendonasikan 5 pcs gelang. Gelang tersebut dihiasi dengan liontin yang terbuat dari batok kelapa bergrafir tukik dan talinya bermotif Tri Datu khas Bali yang merepresentasikan harmoni alam semesta. Pembuatan gelang ini juga merupakan bagian dari kampanye untuk melawan perdagangan illegal perhiasan berbahan sisik penyu.

Selain itu, terdapat Participatory Art Experience bersama Patrick Ching, seorang seniman, penulis, dan edukator konservasi asal Hawaiʻi yang dikenal sebagai “Nature Artist”. Dalam kegiatan ini, peserta diajak untuk berkolaborasi dalam proses berkarya seni yang mengangkat tema kehidupan laut dan konservasi, sekaligus mempererat keterlibatan dan refleksi terhadap isu lingkungan.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, Video Night juga diselenggarakan dengan menampilkan berbagai film pendek yang menyoroti program serta kisah-kisah konservasi penyu dari berbagai belahan dunia. Dalam kesempatan ini, Yayasan Penyu Indonesia menayangkan video profil yang menyoroti semangat dan dedikasi tim lapangan yang bekerja di berbagai lokasi, yaitu Berau, Simeulue, Sipora, dan Nias.

Sebagai travel grantee yang disupport oleh International Sea Turtle Society, Yuli juga melakukan volunteering untuk membantu panitia pelaksana.

Kolaborasi Global dalam Konservasi Penyu

Keikutsertaan Yayasan Penyu Indonesia dalam ISTS ke-44 menjadi momen penting, di mana Indonesia turut hadir dalam percakapan global mengenai konservasi penyu. Upaya perlindungan penyu dilakukan oleh berbagai pihak di berbagai belahan dunia, masing-masing dengan kekuatan dan tantangan yang berbeda. Oleh karena itu, kolaborasi dan koordinasi lintas wilayah yang berkelanjutan menjadi kunci untuk saling memperkuat komitmen, menginspirasi, serta mengembangkan pendekatan yang relevan dan kontekstual.

Yayasan Penyu Purpose

Selamatkan Penyu dari Kepunahan

Penyu menghadapi berbagai ancaman, termasuk perburuan liar, pencemaran plastik, dan kerusakan habitat.

Setiap langkah Anda mendukung perlindungan penyu dan buat dampak nyata!

Lakukan Donasi
Donasi anda Mendukung : Pelepasan Tukik ke habitat alami Pelepasan Tukik ke habitat alami Perlindungan dan pemantauan sarang penyu Perlindungan dan pemantauan sarang penyu Penanganan dan pembersihan pantai dari sampah Penanganan dan pembersihan pantai dari sampah
© Turtle Foundation